Friday, August 26, 2022

Atasi Deforestasi dan Dampak Lingkungan, Cara APRIL Wujudkan Green Economy

 

Sumber: Instagram.com/discoverapril

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada hari tanpa produk dari pulp yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, mulai dari menulis catatan harian, mengelap  keringat, mengeringkan tangan, minum, berbelanja, dan lain-lain. Mulai dari rumah, bekerja di kantor, hingga kembali ke rumah, rasanya tak mungkin tidak bersentuhan dengan produk seperti kertas, tisu, tas belanja, hingga wadah makanan.

Semua produk tersebut berasal dari pohon. Meskipun memiliki banyak manfaat, tetap saja produk itu sering dicap sebagai produk yang tidak ramah lingkungan. Lalu apakah kita bisa hidup tanpa kertas, bahkan kertas saja saat ini menjadi alternatif pengganti plastik. Namun, kenapa dalam setiap kampanye lingkungan, tak jarang orang memandang negatif terkait penggunaan  kertas.

Deforestasi menjadi masalah yang kerap digaungkan terkait industri pulp dan kertas, karena kayu yang merupakan bahan baku untuk pembuatan produk-produk seperti kertas kantor, katalog, glossy, dan lain-lain.

Dampaknya tehadap lingkungan, mulai dari nitrogendioksida, sulfurdioksida, dan karbondioksida yang dilepaskan ke udara. Lalu, industri kertas juga dianggap masih menggunakan bahan bakar fosil untuk produksi bahan baku dan transportasi, sehingga lebih banyak menghasilkan rumah kaca.

Salah satu perusahaan pulp dan kertas di Riau yaitu Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) Group yang merupakan produsen terkemuka serat, pulp dan kertas. Lalu apa yang dilakukan perusahaan ini, agar dalam perkembangan bisnisnya tetap  dapat melestarikan lingkungan.

Ternyata, tak hanya bergerak di sisi bisnis dan keuntungan saja, APRIL Group juga memainkan peran penting dalam perekonomian lokal, dalam kemajuan Indonesia dalam mencapai Tujuan Pembagunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Dengan APRIL 2030, APRIL Group berkomitmen memberikan dampak positif pada iklim, alam, dan manusia.  Tentu ini selaras dengan gagasan Green Economy (ekonomi hijau) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi hijau, diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang kuat namun harus selaras dengan keramahan lingkungan yang ada.

Green economy adalah bagaimanan menjalankan perekonomian berskala makro, tetapi memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan sekitar, terutama hutan yang dikenal sebagai paru-paru bumi.

Pada tahun 2020, APRIL meninjau topik materialnya untuk meluncurkan komitmen dan target keberlanjutan  jangka panjang. APRIL 2030 berfokus pada peluang nyata untuk menciptakan dampak positif paling signifikan terhadap iklim, alam, dan manusia, sambil mengembangkan bisnis secara berkelanjutan (sustainability).

Deforestasi

APRIL memastikan lahan yang dikelolanya telah tersertifikasi baik nasional hingga internasional. Terkait deforestasi, APRIL berkomitmen melindungi hutan tanaman dari kebakaran atau risiko kehilangan kayu atau kerusakan lainnya. Berbagai tindakan  dilakukan untuk melindungi kawasan hutan, termasuk kawasan produksi, konservasi dan restorasi, serta kegiatan ilegal, yang selalu dipantau.

APRIL berkomitmen kuat untuk nol deforestasi, dan nol konversi hutan alam dan ekosistem lainnya dengan melindungi wilayah operasi, serta bekomitmen untuk tidak melakukan pembalakan liar dengan mendukung praktik terbaik dalam pengelolaan hutan yang diambil kayunya

Kebijakan Tanpa Bakar sudah  diambil oleh APRIl sejak tahun 1993 dan dilakukan secara ketat dan mematuhi persyaratah hukum pemerintah Indonesia. Berbagai hal juga dilakukan untuk mengurangi  risiko kebakaran mulai dari pencegahan hingga pemulihan kebakaran dilakukan dengan  manajemen yang terstruktur.

Sumber: Instagram.com/discoverapril

Tak hanya itu, APRIL juga berkomitemen mendapatkan kayu dengan  cara yang bertanggung jawab baik secara lingkungan maupun sosial sebagai bagian dari  pengelolaan hutan berkelanjutan.

Sumber kayu yang dimaksud yaitu hutan tanaman APRIL termasuk mitra pemasok dan pemasok pasar terbuka, yang dikelolah secara bertanggung jawab, serta memasok kayu legal dari sumber yang tidak kontroversial, juga memastikan pemasok kayu berasal dari sumber yang bekelanjutan dan tidak berkontribusi terhadap deforestasi.

Atasi Dampak Lingkungan

Untuk mengatasi dampak lingkungan tersebut APRILmengimplemetnasikan beberapa inisiatif untuk mengurangi emisi Gas Rumah  Kaca (GRK), yaitu dengan  optimasi pemanfaatan energi terbarukaan. Saat ini, APRIL memproduksi lebih dari 87 persen kebutuhan energi dari sumber terbarukan untuk mencapai 90 persen pada tahun 2030, atau lebih cepat.

Sumber: Instagram.com/discoverapril

APRIL juga sudah merencanakan pemasangan panel surya 20 megawatt di Kerinci pada tahun 2025  mendatanng.

Peningkatan penyerapan karbon juga dilakukan. Dalam memenuhi target APRIL 2030, dilakukan  seperti restorasi dan konservasi hutan alam, dan pengelolaan perkebunan yang bertanggung jawab dan praktik pertanian yang lebih baik di lahan gambut. Hal ini membantu menghindari GRK dan dampaknya.

APRIL juga terus berinvestasi dalam penelitaian dan peralatan untuk medorong inovasi di bidang dekarbonisasi dan juga mendorong efisiensi energi dan uap, yang selanjutnya mengurangi emisi GRK.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut, upaya APRIL membantu Pemerintah Indonesia mewujudkan green economy sangatlah besar. Selain membantu pemerintah, dalam mencapai APRIL 2030, APRIL juga membantu kelestarian lingkungan, iklim, dan masyarakat sekitar.

Wednesday, May 25, 2022

Melihat Budidaya Maggot BSF di Kota Pekanbaru

Lalat BSF

Di tulisan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku terkait budidaya maggot BSF di Kota Pekanbaru. Kemarin aku bertemu dengan Pak Mashudi yang merupakan orang yang membudidayakan maggot BSF.


Sebelum cerita lebih lanjut tentang budidaya maggot BSF di Kota Pekanbaru, tau nggak sih, apa itu maggot BSF? Jadi, BSF itu singakatan dari black soldier fly alias lalat tentara hitam.

Meskipun namanya adalah lalat, tapi BSF ini lebih menyerupai tawon besar. Jadi maggot BSF adalah larva atau belatung dari BSF itu sendiri.

Aku mendapat informasi tentang budidaya BSF ini dari seorang rekan yang juga narasumberku sebelumnya yaitu Bang Hafiz. Akhirnya aku pun pergi dari Panam Pekanbaru menuju Jalan Tanjung Datuk Ujung, Sei Duku, Kecamatan Limapuluh, Kota Pekanbaru. Meskipun masih berada dalam satu kota, dari tempatku tinggal perlu mamakan waktu lebih dari 30 menit.

Sesampainya di sana aku menunggu tepat di depan gerbang Pelabuhan Sei Duku. Sebelumnya aku mencoba mengikuti Maps yang diberikan Pak Mashudi, tetapi kesasar, jadi Pak Mashudi memintaku untuk menunggu di depan gerbang pelabuhan.

Kata Pak Mashudi, membudidayakan lalat BSF ini gampang-gampang susah. Harus konsisten dan menjaga siklusi hidup lalat BSF, dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa.

Siklus hidup Lalat BSF

Makanan maggot BSF ini cukup sederhana tapi banyak, bisa sisa buah, sisa sampah dapur, dan sampah-sampah organik lainnya.
 
Maggot BSF sendiri memiliki banyak manfaat, seperti untuk pakan ayam, ikan, burung, dan lain-lain, yaitu yang sudah berbentuk larva dewasa berwarna putih kecoklatan, dan bisa juga yang sudah menjadi pupa atau maggot yang sudah tidak bergerak berwarna hitam dan siap menjadi lalat BSF.

Maggot BSF

Cara Budidaya Maggot BSF

Saat berkunjung ke tempat budidaya Pak Mashudi, ada sebuah kandang tertutup, di dalamnya ada bak-bak yang didisi oleh maggot. Sementara di bagian luar di buat satu tempat khusus berdinding jaring-jaring tipis yang didalamnya terdapat lalat BSF dewasa.

Proses budidaya maggot dimulai dari penetasan, telur-telur BSF dikumpulkan, sebelum diletakkan di bak penetasan, yang di atasnya sudah terdapat palet ikan, dan dikelilingi dedak agar setelah menetas, bayi larva tidak kabur.

Telur lalat BSF

Pakan pelet juga harus dijaga agar tidak kering. Kemudian, setelah selama 1 minggu di dalam bak penetasan maka dipindah ke bak pembesaran.

Di dalam bak pembesaran, setelah 12 hari  larva sudah bisa dipanen, yaitu yang berukuran besar berwarna putih. Maggot ini bisa diberikan untuk untuk pakan ikan, ayam, dan lain-lain.

Bak pembesaran maggot BSF

Agar siklus tetap terjaga, tidak semua larva dimanfaatkan  untuk pakan ternak, harus ada yang disisakan atau dibiarkan agar bisa tumbuh menjadi pupa.

Pupa adalah larva yang sudah menghitam dan tidak bergerak, ini selain bisa juga untuk pakan ternak, juga bisa untuk menjadi indukan lalat baru.

Khusus untuk yang dijadikan indukan baru, larva dewasa lama-lama akan menjadi prepupa hingga kahirnya tidak tidak bergerak atau menjadi pupa. Jika sudah demikian, maka pupa dipindahkan ke dalam baskom lalu  ditutupi seng, dan dimasukkan ke dalam kandang lalat dewasa.

Setelah menjadi lalat, masuk hari ke-3 atau ke-4 lalat akan kawin, kemudian di hari ke-5, 6, dan 7 bertelur, kemudian mati. Usia lalat BSF ini hanya 7 hingga 8 hari.

Siklus BSF harus dijaga, karena masa hidup lalat BSF tidak lama. Lalat BSF dewasa jantan akan mati setelah kawin, sedangkan lalat BSF betina akan mati setelah bertelur.
 
Untuk 10 gram telur BSF akan memerlukan pakan pelet ikan sekitar 1 kg. Setelah lalat bertelur,  telur dipindah  ke bak penetasan, telur akan menetas di hari ke 3 atau ke-4, lalu tetap ditempatkan di bak penetasan hingga 7 hari. Setelah itu, pindah bayi larva ke bak pembesaran agar tumbuh menjadi larva dewasa.
 
Siklus maggot BSF ini kurang lebih 1 bulan 2 minggu, dari telur hingga lalat dewasa mati. Larva menjadi pupa biasanya memerlukan waktu satu bulan hingga 40 hari tergantung pakan yang diberikan. Cepat tidaknya menjadi pupa tergantung pakan, jika diberi buah-buahan terus-menerus bisa  memerlukan waktu hingga 40 hari, tapi kalau roti yang dicampur sampah dapur, 1 bulan sudah jadi pupa, apalagi kalau dikasih bungkil sawit.

Budidaya maggot BSF juga bergantung  pada cuaca. Saat mendung lalat dewasa tidak aktif bergerak, baik untuk kawin maupun bertelur, sehingga telur yang dihasilkan sedikit. Pak Mashudi mengatakan, saat cuaca sedang bagus ia bisa memanen 70 – 100 gram telur per hari. Namun, saat cuaca mendung, ia hanya mendapatkan sekita 20 gram telur perhari.
 
Perawatan selama di bak pembesaran juga cukup mudah, maggot BSF bisa diberi makan sampah organik seperti sisa sayur, buah, sampah dapur, bungkil, sawit, hingga ampas kelapa. Mula-mula sampah organik yang sudah dikumpulkan digiling dengan mesin, setelah itu dicampur dengan E4 dan molase dan difermentasikan selama dua hingga tiga hari. Bisa juga tanpa fermentasi, tapi lebih bagus kalau difermentasikan lebih dulu.
 
Untuk 1 kg pupa jika menjadi lalat dewasa dapat memberikan telur sebanyak 40 – 50 gram. Jika ditetaskan bisa menjadi 100 kg larva dewasa. Lalu jika dijadikan pupa atau calon indukan maka akan mendapat lalat BSF dewasa yang melimpah.

Pakan Lalat BSF
 
Pakan menjadi hal penting untuk dipikirakan. Dalam 1 kg larva memerlukan 5 kg pakan dari sampah organik selama satu hari. Satu bak itu bisa 10 kg, paling tidak perlu pakan 40- 50 kg.
 
Karena menggunakan pakan dari sampah rumah tangga, Pak Mashudi mengaku di rumahnya sudah tidak ada sampah yang terbuang sia-sia. Ia  memilih menjadikan sampah rumah tangganya untuk pakan maggot. Bahkan, karena jumlah yang diperlukan cukup banyak, ia harus rajin mendatangi tempat penampungan sampah untuk mencari sampah organik.
 
Sementara itu, untuk yang sudah menjadi lalat, tidak perlu diberikan pakan lagi, cukup hanya dengan menyeprot air yang dicampur dengan gula.

Pak Mashudi menyemprot kandang lalar BSF

Budidaya maggot BSF ini sangat banyak manfaatnya. Menurut Pak Mashudi, tidak ada yang terbuang dalam budidaya ini. bahkan, sisa-sisa makanan maggot dapat dijadikan kompos yang jika dijual dapat menjadi pundi-pundi rupiah.
 
Tanah yang hitam di bawah maggot itu adalah pakan yang sudah dimakan oleh maggot,  itu lah komposnya. Kalau  dijual, per kilogramnya bisa Rp1.000 hingga Rp1.500. Lalat yang sudah mati juga bisa buat pakan ayam dan pancingan untuk lalat baru agar  bertelur. Tidak ada yang terbuang.
 
Dari budidaya maggot ini, Pak Mashudi dapat menjual telur maggot BSF, larva dewasa untuk  pakan, pupa, serta kompos. Ia memasarkannya melalui  Facebook pribadinya (Mashudi) dan Whatsapp. Tak tanggung-tanggung, ia telah menjual telur dan pupa hingga ke Jambi, Lampung, Siak, Bengkalis,  Medan, dan lain-lain.

Sementara untuk larva dewasa dan kompos, ia menjualnya di dalam Kota Pekanbaru mengingat kesulitan mengirimkan makhluk hidup melalui ekspedisi.
 
Untuk harga, telur maggot BSF dijual Rp6 ribu pergram, sementara larva dewasa dan prepupa Rp60 ribu perkilogram, dan pupa Rp8 ribu per gram. Dalam satu hari,  ia bisa mendapatkan omzet Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, tergantung seberapa banyak telur yang diperoleh dalam satu hari.

Di Kota Pekanbaru sendiri budidaya maggot BSF masih sangat jarang. Bisa jadi, ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi yang berminat.

Pak Mashudi sendiri bersedia membagikan ilmu secara gratis jika ada yang ingin mencoba budidaya maggot BSF, asalkan ada niat dan tidak jijik terhadap belatung atau larva.

Sunday, October 10, 2021

Manfaatkan Lain dari Kulit Jengkol

Kulit jengkol kering

Kulit jengkol biasanya dibuat apa ya? Bagi orang-orang yang kreatif dan inovatif, kulit jengkol bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Banyak artikel yang memuat pemanfaatan kulit jengkol di bidang kesehatan. Namun, ada manfaat lain lagi dari kulit jengkol. 

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan empat mahasiswi Universitas Islam Riau (UIR). Mereka ini adalah Cut Aida Rosa, Putri Selaras, Haliza Nurdilla, dan Ghina Salsabila Fajri. 

Berawal dari kegemaran makan jengkol, mereka berinovasi membuat kulit jengkol menjadi lebih berharga. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini. Melihat kandungan-kandungan yang dimiliki kulit jengkol, mereka pun mencoba membuat handsanitizer yang diberi nama Jengkizerr. 

Mereka bercerita, jika bijinya dibuat untuk masakan, maka kulitnya diambil untuk diolah. Terkadang mereka juga membeli kulit jengkol dari pasar terdekat, katanya selain mengurangi sampah kulit jengkol, juga dapat membantu perekonomian. 

Berbicara tentang jengkol, pasti yang pertama kali terpikir adalah baunya yang menyengat, apalagi jika diaplikasikan ke tangan sebagai handsanitizer. Tenang saja, mereka juga memikirkan masalah ini dan sudah menemukan solusinya. 

Kenapa kulit jengkol bisa dijadikan handsanitizer? Ternyata kulit jengkol mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, glikosida, steroid atau triterpenoid, saponin, protein, fosfor, vitamin A, vitamin B, dan kalsium. Selain itu kulit jengkol juga  bersifat antioksidan. 

Inovasi ini juga berhasil lolos pendanaan pada kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) UIR. Tim ini berada dibawah bimbingan luar biasa dari Dosen Dr Prima Wahyu Titisari SSi MSi. Hebat banget mereka ya, aku kuliah dulu ngapain aja ya. 

Bagaimana cara pembuatannya? Wanita-wanita keren ini mengatakan, meskipun mereka membuatnya di laboratorium UIR, tapi tak menutup kemungkinan untuk membuat handsanitizer dari kulit jengkol ini di rumah. Asalkan alatnya ada. 

Hal yang harus dilakukan pertama, tentu saja mencari kulit jengkol, lalu dibersihkan. Setelah itu dipotong kecil-kecil, lalu diblender kasar, alias tidak perlu terlalu halus. 

Sesudah didapatkan hasil blenderan, letakkan di atas nampan, tutup di atasnya menggunakan kertas atau koran, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. 

Jika sudah kering, diblender lagi. Nah pemblenderan kali ini dilakukan hingga menjadi bubuk. 

Proses selanjutnya adalah maserasi. Maserasi yaitu metode ekstraksi dengan proses perendaman bahan dengan pelarut. Pelarut yang digunakan bukan etanol. Mereka menggunakan Aquades (air yang dimurnikan). Rendam bubuk dalam wadah bersama Aquades. Pastikan bubuknya benar-benar tenggelam, lalu biarkan beberapa hari.

Proses pembuatan Jengkizerr

Setelah ini, jangan direndam saja. Sesekali harus tetap diaduk. Jika dirasa sudah cukup, lakukan penyaringan menggunakan kain flanel. Penyaringan dilakukan dua kali, di penyaringan kedua gunakan kertas saring. Filtrat yang telah didapatkan kemudian dimasukkan dalam wadah dan diberi essential oil untuk menghilangkan aroma jengkol. 

Masukkan ke dalam botol spray, dan handsanitizer siap untuk digunakan. 

Memasukkan ke dalam botol spray

Berikut takaran yang digunakan untuk tiga botol (100 ml) handsanitizer.

- 3 kg kulit jengkol = 500 gr bubuk kulit jengkol

- Aquades = Selain menenggelamkan bubuk di wadah, banyaknya Aquades harus dua kali lipat dari tinggi bubuk dalam wadah.

- 30 hingga 40 tetes essential oil. 

Handsanitizer ini diklaim lebih sehat daripada handsanitizer beralkohol. Penggunaan handsanitizer beralkohol yang digunakan secara terus menerus dan dapat mengakibatkan iritasi pada kulit. Kandungan pada kulit jengkol dapat menggatikan alkohol pada handsanitizer sehingga lebih sehat untuk digunakan, dan tidak membuat kukut kering. 

Produk ini bisa dilihat dan dipesan melalui Facebook, Instagram, Shopee, dan lain-lain, dengan nama Jengkizerr.

Handsanitizer dari jengkol: Jengkizerr

Jadi bagaimana? berniat mencoba Jengkizerr karya mahasiswa UIR ini?

Thursday, September 16, 2021

Cara Praktis Manfaatkan Minyak Jelantah

 


Biasanya minyak jelantah alias minyak bekas pakai yang sudah tidak bisa digunakan lagi itu dibuang sia-sia. Ternyata ada cara prakris manfaatkan minyak jelantah lo, tak hanya menjadi lebih berguna, tapi juga bisa menghasilkan cuan. 

Cara praktis manfaakan minyak jelantah yaitu dengan menjualnya kembali. Eits, bukan jual ke sembarang orang ya, tapi ke orang yang tepat agar bisa digunakan dengan baik, bukan untuk hal yang bisa membahayakan manusia dan makhluk hidup. 

Kita harus tahu, membuang sembarangan minyak jelantah memiliki dampak buruk untuk lingkungan. Sebagai informasi limbah minyak goreng alias minyak jelantah ini termasuk limbah non B3, yang juga berdampak buruk untuk kesehatan.

Membuang minyak jelantah sembarangan dapat menyumbat drainase. Saluran air akan menjadi kotor dan tersumbat, sehingga dapat menjadi tempat bagi bakteri berkembang biak, dan tentu saja menimbulkan penyakit. 

Membuang di tanah, juga bukan solusi yang baik. Bagaimana tidak, minyak jelantah yang terserap ke tanah akan menggumpalkan dan menutup pori-pori tanah. Kalau sudah menggumpal tanah akan menjadi lebih keras, dan bsisa menyebabkan banjir. 

Cara praktis manfaakan minyak jelantah, tak hanya memberikan keuntungan di sisi ekonomi, tapi juga akan berdampak baik untuk lingkungan. 

Beberapa waktu yang lalu, aku berjumpa dengan pengusaha yang bergerak di bidang minyak jelantah ini, yaitu Pimpinan CV Arah Baru Sejahtera M Rizky Ramadhan. 

Ia bercerita banyak hal tentang pemanfaatan minyak jelantah, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak lagi membuang minyak jelantah, karena minyak tersebut masih bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi.

Bang Rizky saat menunjukkan proses filtrasi minyak jelantah

Selain melihat minyak jelantah dari sisi ekonomi, sisi lingkungan juga menjadi perhatin khusus. Selama ini, banyak pelaku usaha terutama usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang menggunakan minyak sebagai bahan utama dalam membuat makanan, terlebih yang goreng-menggoreng. 

Pihaknya bersedia membeli minyak jelantah dari masyarakat atau pun UMKM. Untuk apa sih minyak jelantah tersebut? Tentu saja bukan untuk dikonsumsi tubuh ya... 

Rizky menuturkan, minyak jelantah, khususnya jelantah sawit memang sengaja dikumpulkan untuk diekspor ke luar negeri, nantinya minyak jelantah ini akan menjadi bahan baku dalam pembuatan biodiesel. 

Biodiesel adalah bahan bakar untuk kendaraan yang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan biosolar. Namun, biodiesel ini lebih banyak dipakai untuk kendaraan di luar negeri seperti dari negara-negara di Eropa sana. 

CV Arah Baru Sejahtera memiliki program Bank Jelantah Pekanbaru, sebuah program untum masyarakat, lingkungan, kesehehatan, dan ekonomi. Inovasi ini membantu masyarakat dan pelaku usaha, baik itu UMKM, kafe, hingga restoran. Program ini juga bekerja sama dengan Yayasan Cinta Umat, dalam program sedekah jelantah. 

Dari minyak jelantah ini, bisa membantu hanyak pihak di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. 

Caranya menjualnya bagaimana, gampang kok. Bisa melalui Bank Jelantah yang ada di berbagai kabupaten atau kota di Riau. Bank Jelantah Bengkalis, Bank Jelantah Duri, Bank Jelantah Tembilahan, dan lain-lain. Bagi masyarakat Pekanbaru juga bisa langsung datang ke Pergudangan Golden City Nomor B10, Jalan Air Hitam Pekanbaru. 

Berapa Harganya?

Nah ngomongin masalah duit, harga yang ditawarkan adalah Rp7 ribu per kilogram minyam jelantah. Harga ini harga standar, terkadang bisa lebih dari itu. Jadi daripada dibuang sia-sia lebih baik dijual bukan? 

Setiap bulannya, Rizky mengekspor sekitar tiga kontainer, dk mana setiap kontainer menampung sekitar 21 ton minyak jelantah. 

Proses sebelum diekspor, minyak jelantah terlebih dahulu harus disaring atau di-filter. Selain itu, juga dilaksanakan uji lab untuk menentukan spesifikasi sesuai dengan yang diminta oleh negara tujuan ekspor minyak jelantah ini. 

menurunkan minyak jelantah dari pick up untuk ditimbang dan di-filter

Tentu saja, diharapkan dengan hadirnya Bank Jelantah, dapat menjadi cara praktis manfaatkan minyak jelantah, sehingga alih-alih minyak jelantah menjadi limbah tak berguna, namun menjadi suatu hal yang bermanfaat untuk kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan sosial. 

Tertarik?

Monday, July 5, 2021

Mengurangi Volume Sampah dengan Pemanfaatan Komposter

 Di mana ada manusia, di situ ada sampah. Kenyataan ini lah yang tejadi saat ini. Banyak akademisi, aktivis lingkungan dan lainnya berupaya  menanggulangi banyaknya sampah yang diproduksi oleh manusia. Salah satu caranya, adalah dengan mengurangi volume sampah dengan pemanfaatan komposter.

Mengurangi volume sampah dengan pemanfaatan komposter sudah banyak dilakukan oleh masyarakat dewasa ini. kendati demikian, jumlah orang yang belum sadar akan hal ini juga tidak sedikit.

Beberapa waktu lalu, aku berjumpa dengan salah satu  warga di Kelurahan Air Hitam, Pekanbaru, Pak Sapari namanya. Kami mengobrol sedikit banyak tentang upaya mengurangi volume sampah dengan pemanfaatan komposter.

Komposter

Komposter adalah alat yang digunaikan untuk membantu dekomposter atau bakteri pengurangi, dalam mengurai material organik (sampah organik) menjadi bentuk baru dengan sifat seperti tanah.

Dengan alat ini, jumlah sampah organik dari rumah tangga bisa dikurangi hampir 100 persen. Pak Sapari sendiri bercerita, setelah memakai komposter ia hanya perlu memikirkan bagaimana membuang sampah anorganik saja. Dengan demikian, sampah yang dihasilkan oleh keluarganya menjadi jauh berkurang jika dibandingkan sebelum menggunakan komposter.

Pak Sapari juga membuat sendiri komposter miliknya, dengan memanfaatkan tong berwarna biru yang dimodifikasi sedemikian rupa, di badan tong dipasang engsel untuk membuka tutup, dan beberapa pipa.

Ia juga menjelaskan cara membuat komposter paling sederhana, yaitu dengan menggunakan dua buah ember cat yang ditumpuk. Ember yang berada di atas di lubangi jarang-jarang di bagian bawahnya. Sementara, ember yang berada di bagian bawah dipasang air keran  untuk mengalirkan air lindi. Setelah itu, komposter siap digunakan.

Sampah-sampah organik tinggal di masukkan ke dalam komposter dan ditutup rapat, sebelum dimasukkan, sampah organik sebaiknya dicacah terlebih dahulu. Akan lebih baik lagi jika ditambahkan dengan cairan biovaktor setiap kali memasukkan sampah ke dalam komposter.

Sampah organik juga dimasukkan secara bertahap, sampah yang lebih lama akan berada di bawah. Lama-lama sampah tersebut akan menjadi pupuk kompos, yang dapat diambil kembali manfaatnya untuk  tanaman.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar komposter diberi pintu buka tutup untuk memudahkan dalam mengambil sampah organik yang telah menjadi kompos.

Nah, air lindi yang berada di bawah juga bisa digunakan untuk pupuk cair. Sehingga, selain mengurangi volume sampah, komposter juga bisa menekan biaya pembelian pupuk.

Kendati demikian, Pak Sapari menjelaskan jika tidak semua sampah organik bisa masuk ke dalam tong komposter. Di antaranya adalah, daging, tulang, lemak minyak, susu, dan keju, karena hal tersebut akan menghalangi reaksi penguraian di dalam komposter.

Nah, untuk sampah organik yang disarankan adalah sisa nasi, sisa sayuran, sisa roti, sisa makanan, daun tanaman, rumput-rumputan, dan lain-lain.

Keberadaa n kompester, selain mengurangi volume sampah adalah juga menjadikan lingkungan tempat kita tinggal semakin bersih, dan tidak berbau, hal ini tentu saja kan mengurangi penyebab timbulnya penyakit, meningkatakan kualitas tanah atau nutrisi makanan. Komposter juga bisa diletakkan di mana saja.

Karena tindakannya tersebut, cukup banyak masyarakat yang ingin membuat komposter seperti Pak Sapari. Ia juga bersedia membuatkan komposter dengan berbagai ukuran, mulai dari 30 liter, 60 liter, dan 120 liter. Harganya cukup beragam, yaitu Rp300 ribu untuk ukuran 30 liter, Rp400 ribu untuk ukuran 60 liter, dan Rp500 ribu untuk  ukuran 120 liter.

Komposter

Jika ingin memesan bisa cari Pak Sapari di akun Facebook miliknya yaitu Sapari Ari. Tertarik untuk membuatnya?

Mari menjadi bagian dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari  hal yang paling kecil sekalipun. Bayangkan ada banyak orang seperti Pak Sapari, berapa banyak sampah yang bakal berkurang? Bayangkan aja dulu.

Friday, June 25, 2021

Manfaat Eco Enzyme dalam Kehidupan Sehari-Hari

Tong untuk fermentasi eco enzyme (DLHK Riau)


Di tulisanku kali ini aku akan membahas terkait manfaat eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari. Apa itu eco enzymee? Limbah dapur organik, yaitu ampas buah dan sayuran, yang kemudian difermentasikan, itulah eco enzyme. Lalu apa manfaat eco enzymedalam kehidupan sehari-hari?

Ternyata ada banyak sekali manfaat terkai eco enzyme ini, tak salah ciptaan Tuhan meskipun sudah menjadi limbah atau sampah tetap saja bisa diambil manfaatnya.

Manfaat dari eco enzym euntuk kehidupan sehari-hari, di antaranya adalah sebagai pupuk tanaman, pengharum  ruangan, penetral udara, anti radiasi, juga bisa menjadi cairan tambahan untuk membersihkan piring dan pakaian,  penjernih air, untuk kecantikan serta kesehatan

Bahan organik yang bisa digunakan untuk membuat eco enzyme adalah sisa sayuran dan  buah-buahan, seperti kulit nenas, kulit jeruk, kulit mangga, dan lain-lain. Buah-buahan seperti salak, durian, dan alpukat sangat tidak direkomendasikan untuk pembuatan eco enzymee.

 

Bahan untuk Membuat Eco enzymee

Mencuci bahan-bahan organik sebelum difermentasikan

Pembuatan eco enzyme ini khusus untuk penggunaan 1 kg molase. Jika ingin membuat lebih dari ini, tinggal mengalikan saja. Rumus  (1:3:10)

1 kg gula merah yang dicairkan (molase)

3 kg bahan organik

10 liter air

Wadah  (ember bekas cat 25 kg)

Cara pembuatan

Cuci bersih bahan organik

Cacah hingga kecil-kecil

Siapkan  molase

Masukkan bahan organik tersebut ke dalam wadah dan campur dengan  molase.

Tutup wadah dengan rapat.

Tungguh hingga tiga bulan.

Panen

Setelah tiga bulan, pisahkan antara ampas dengan cairan eco enzyme. Baik ampas maupun cairannya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Dalam proses fermentase ini, tidak menutup kemungkinan ulat atau belatung akan muncul.  Untuk mengatasi hal ini, bisa dilakukan dengan menambahkan molase, lalu tutup wadah dengan rapat, setealh itu jemur wadah tersebut. Ulat akan hancur oleh proses fermentasi lanjutan.

Manfaat untuk Kecantikan

Biasanya, setelah satu minggu dari hari pertama fermentasi, akan muncul jamur yang disebut dengan jamur pitera. Jamur ini bisa dimanfaatkan untuk kecantikan. Cara penggunaannya juga cukup mudah, jamur tinggal diambil menggunakan sendok. Setealah itu, masukkan ke dalam wadah lain. Jamur pitera ini bisa langsung dioleskan ke wajah selama beberapa menit.

Sayangnya, jamur pitera tidak bisa bertahan lama, tetapi bisa bertahan selama lima hari jika disimpan di dalam kulkas.

Sebagai catatan, jika berencana memanfaatkan eco enzyme untuk kecantikan sebaikanya pilih ampas dari bauh-buahan, seperti kulit nenas, kulit jeruk, kulit mangga, dan lain-lain.

Hindari, bahan organik seperti cabai jika berencana memanfaatkan eco enzyme untuk kecantikan.

Membersihkan  Sayuran

Eco enzyme juga sangat direkomendasikan utnuk membersihkan sayuran sebelum dimasak, atau buah-buahan sebelum dikonsumsi. Sifat eco enzymeyang bisa menetralisir pestisida, logam berat, lilin, dan sel parasit, akan membuat sayur dan buah-buahan menjadi lebih bersih.

Cara pemakainannya juga cukup mudah. Untuk satu liter air bilas, bisa dicampur dengan dua sendok eco enzyme.

Pewangi Ruangan dan Pupuk tanaman

Eco enzyme yang terbuat dari ampas buah-buahan  bisa dimanfaatkan untuk pewangi ruangan. Setelah tiga bulan, pisahkan ampas dengan cairan. Peras ampas lalu masukkan ke dalam jaring pembungkus buah atau kain. Ampas tersebut tinggal digantungkan di ruangan, atau bisa juga digunakan sebagai pupuk untuk tanaman.

Membersihkan Parit

Eco enzyme juga sangat bagus untuk emmperbaiki kualitas air parit dan sungai di sekitar tempat tinggal. Bahkan air sisa bilasan dari eco enzyme jika mengalir ke dalam parit juga akan memberikan efek yang positif karena pada dasarnya eco enzyme mampu mengembalikan biota air menjadi lebih baik.

Eco enzyme mampu mengurai sampah-sampah rumah tangga di dalam parit, mulai dari detergen, oli, dan minyak-minyak yang menyebabkan pendangkalan parit. Tentunya hal ini bisa dilaksanakan jika masyarakat secara kompak memanfaatkan eco enzymee.

Nah, jika ingin  memanfaatkan eco enzymeuntuk menjernihkan air bisa menggunakan bahan  organik dari sisa sayuran dan buah-buahan kecuali yang telah disebutkan sebelumnya.

Sebagai informasi, 1 liter eco enzymebisa memperbaiki kulitas air 50 ribu hingga 100 ribu liter air.

Manfaat untuk Kesehatan

Jika ingin memanfaatkan eco enzyme untuk kesehatan, maka bisa melakukannya dengan fermentasi yang lebih lama. Semakin lama fermentasi, maka hasilnya akan lebih baik. Dianjurkan fermentasi selama lebih dari enam bulan.

Eco enzyme bisa mempercepat penyembuhan luka luar, caranya tinggal semprotkan eco enzyme ke luka atau borok. Penggunaan eco enzyme dapat mempercepat penyembuhan luka  luar.

Itu dia, manfaat eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Pengendali Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan Provinsi Riau Isra’ dan Staf Peningkatan Kapasitas Dinas LHK  Zuryati.