Wednesday, February 15, 2023

Keliling Jogja dalam 1 Hari Part 3: Melihat Sisi Lain Tamansari Yogyakarta

Pintu masuk Tamansari

Usai dari jalan-jalan keliling Yogyakarta, mulai dari Alun-alun Kidul, Malioboro, hingga Prambanan, tulisan ini menjadi part terakhir dalam rangkaian family gathering Anak Ibu Keponakan (tanpa ibu) di Jogja.

Baca juga: Keliling Jogja Part 1: Alun-alun Kidul Yogyakarta

Setelah dari Prambanan, salah dzuhur, dan makan siang, kami beristirahat sejenak di sebuah masjid tak jauh dari Candi Prambanan. Menjadi sebuah kesalahan bagi kami, karena memilih menunggu azan asar sebelum bertolak.

Baca juga: Keliling Jogja Part 2: Candi Prambanan

Padahal, kami bisa salat asar ketika sudah sampai di Tamansari. Jujur, kami tidak melihat jadwal buka Tamansari. Jarak dari Prambanan ke Tamansari juga memakan waktu sekitar 30 menit.

Karena kami bertolak setelah salah asar, otomatis sampai di Tamansari waktu menunjukkan sekitar 15.30 WIB. Sedangkan Tamansari hanya buka hingga pukul 15.00 WIB.

Sampai di Tamansari kami memarkirkan sepeda motor, meskipun tidak bisa masuk ke area utama Tamansari, diajak berkeliling untuk melihat peninggalan-peninggalan Sultan Jogja lainnya yang masih bisa dilihat.

Membersamai kami, seorang pemandu paruh baya bernama Pak Albertus menjelaskan terkait Tamansari dan sisi lain dari Tamansari yang tak kalah menarik untuk dijelajahi.

Area-area yang ditunjukkan oleh Pak Albertus yaitu area dapur, tempat makan sultan, tempat bersantai sultan, sumur, dan lain-lain. Aku belum pernah  masuk ke area utama tempat wisata Tamansari, jadi untuk perbandingan aku belum bisa menjelaskan lebih lanjut.

Selain dipandu, kita juga dibolehkan jika ingin berjalan sendiri. Tinggal mengatakan dengan sopan bahwa ingin berjalan-jalan sendiri tanpa dipandu.

Area Tamansari yang kami kunjungi yaitu berada di antara rumah-rumah warga yang kata Pak Albertus masih milik dari abdi dalem Kesultanan Yogyakarta.

Dari samping gerbang Tamansari kita berjalan lurus  dan masuk ke jalan yang rapat oleh rumah-rumah warga. Terlebih dahulu kita akan melalui sebuah gerbang yang tidak terlalu tinggi dan bisa disentuh bahkan tanpa berjinjit.

Pak Albertus menuturkan, dibuatnya gerbang rendah seperti itu bukan tanpa maksud, melainkan agar pengunjung yang masuk menunduk dan memberikan hormat. Kulihat Pak Albertus komat-kamit sembari mengucapkan kalimat permisi untuk masuk ke kawasan tersebut.

Kemudian kita akan melewati tembok tinggi dengan terowongan di tenga-tengahnya yang disebut Gerbang Carik. Tulisan Gerbang Carik berwarna biru tersebut sendiri sudah mulai memudar termakan waktu.

Menuju Gerbang Carik di Kompleks Tamansari Jogja

Menurut Pak Albertus, Carik adalah sebutan untuk juru tulis atau sekretaris, yaitu seseorang yang mengetahui berbagai hal milik kesultanan bahkan hingga hal yang paling rahasia sekalipun.

Tamansari Jogja

Selanjutnya, kami diajak berkeliling dan menuju ke Gedong Madaran. Pak Albertus mengatakan jika Gedong Madaran dulunya berfungsi sebagai dapur tempat memasak makanan bagi keluarga raja.

Kemudian, kami terus berjalan hingga sampai di sebuah sumur dengan air yang sangat jernih di dalamnya. Terdapat puluhan koin-koin berwarna perak dan emas di sumur tersebut.

Konon katanya, jika melemparkan sebuah koin dan mengucapkan permintaan, maka akan terkabulkan. Tapi berdoanya jangan pada sumur, tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa yaa.

Sumur di Tamansari

Pak Albertus kemudian mengajak kami berjalan menuju Pasarean Ledoksari yang bangunannya menurutuku hampir seperti di drama saeguk Korea. Pasarean Ledoksari dahulunya merupakan tempat raja beristirahat saat berkunjung ke kompleks Tamansari.

Katanya lagi, Ledoksari adalah bangunan pertama yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I di Kompleks Tamansari.

Ledoksari

Satu hal lagi yang menurutku menarik terkait sosok dari Pak Albertus ini. Ia seolah-olah bisa menerawang siapa diri kita dan seperti apa kita di masa yang akan datang. Bisa dikatakan antara fakta dengan ramalan. Tentu saja ramalannya tentang hal-hal yang baik-baik saja.

Saat pertama kali masuk dan sebelum mengajak kami berkeliling, Pak Albertus tiba-tiba menebak siapa diri kita meskipun tidak 100 persen benar, tapi kebanyakan adalah benar.

Rani misalnya, Pak Albertus mengatakan jika Rani adalah mahasiswa kesehatan. Kemudian Asna, dikatakan berasal jurusan berlatar belakang pendidikan.

Mendengar hal tersebut, sontak kami saling pandang seolah-olah mengatakan "Bagaimana Bapak ini bisa mengetahui siapa diri kami, padahal belum terlalu banyak mengobrol".

Kendati demikian, Pak Albertus tidak mengatakan apa-apa tentangku, ia hanya mengatakan jika di masa depan aku bisa menjadi orang hebat bahkan bisa menjadi menteri jika ingin.

Akupun mengiyakan dan mengaminkan, toh kata-katanya juga bukan suat hal yang buruk untuk diaminkan.

Ia juga menuturkan jika kami adalah orang-orang yang tulus dan jujur dalam menjalankan hidup. Bahkan ia juga mengungkapkan bahwa aku sangat cocok menjadi ustazah.

Itulah sekilas perjalanan kami berkeliling Tamansari, meski bukan melihat-lihat ke bangunan utama, tapi ada banyak hal baru yang bisa dipelajari.

Pak Albertus juga bersedia mengabadikan momen-momen kita di Tamansari dan hasil fotonya lumayan ciamik.

Tamansari Jogja

Usai berkeliling dan kembali ke parkiran motor, kami pun berpamitan dengan Pak Albertus serta memberikan uang jasa seikhlasnya untuk beliau.

Inilah akhir cerita Keliling Jogja seharian. Lah kan 2 hari, kenapa dikatakan seharian. Sehari kan ada 24 jam, dimulai dengan sore dan berakhir dengan sore.

Setelah dari Tamansari kami kembali ke penginapan untuk mengambil barang yang sudah dititipkan sebelum checkout. Selanjutnya, mengembalikan sepeda motor, lalu duduk santai menikmati es krim dengan pemandangan kereta yang melintas sebelum akhirnya menuju ke Stasiun Tugu Yogyakarta untuk pulang ke habitat masing-masing. Tinggalah Rani seorang diri di Kota Pelajar dengan beragam wisatanya.

Sampai jumpa di tulisan-tulisanku selanjutnya. Jangan pernah bosan untuk membaca, biarkan aku secara lengkap menceritakan kisah yang jarang kusampaikan secara lisan.



Sunday, February 12, 2023

Keliling Jogja Seharian Part 2: Pesona Candi Prambanan

Candi Prambanan

Setelah pulang basah kuyup dari Malioboro, kami pun beristirahat di penginapan sembari merencanakan kemana akan pergi di hari esoknya. Diputuskanlah kami akan mengunjungi Candi Prambanan dan  Taman Sari.

Baca juga: Keliling Jogja Seharian Part 1

Kami berangkat dari penginapan menuju Candi Prambanan Yogyakarta sekitar pukul 9 pagi. Cuaca saat itu sangat cerah, matahari sudah cukup tinggi.

Candi Prambanan adalah candi Hindu yang terbesar di Indonesia, berada di Jalan Raya Solo - Yogyakarta, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Slemen, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perlu waktu sekitar 30 menit dengan sepeda motor dari pusat Kota Jogja.

Menuju ke Candi Prambanan Jogja, juga bisa ditempuh dengan bus transjogja lo, ku lihat ada transjogja yang mengarah ke sana dan halte-nya pun tidak jauh dari pintu masuk Candi Prambanan.

Di perjalanan menuju Candi Prambanan, kami terlebih dahulu sarapan. Namanya juga warga Sumatra, nasi padang menjadi pilihan kami untuk mengganjal perut sebelum menjelajah pada waktu itu.

Ada sangat banyak warung nasi padang di sepanjang perjalanan menuju Candi Prambanan, tinggal memilih salah satu, duduk manis, dan menikmati hidangan yang disajikan.

Harga tiket masuk ke Candi Prambanan Januari 2023 adalah Rp50 ribu per orang. Kita juga bisa memilih paket terusan Candi Prambanan dan Borobudur, Candi Prambanan dan Ratu Boko, dan Candi prambanan dan Plaosan.

Namun, kami memilih untuk hanya ke Candi Prambanan saja, mengingat candi ini sangat luas dan banyak area yang bisa dijelajahi, sehingga kami merasa tidak cukup energi jika ingin mengambil tiket terusan.

Sejarah Candi Prambanan

Candi bercoarak Hindu ini namanya sudah santer hinga ke mancanegara, dan diakji oleh UNESCO sebagai warisan cagar budaya dunia.

Selain kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang melegenda, Candi Prambanan juga memiliki sejarah masa lampau yang sayang jika tidak diketahui. Candi ini berdiri pada sekitar abad ke-9 Masehi (850 Masehi).

Candi Prambanan

Dalam isi prasasti Siwagraha, Candi Prambanan dibangun oleh Raja keenam Kerajaan Mataram Kuno yaitu Rakai Pikatan guna memuliakan Dewa Siwa. Hal ini juga terlihat dari keberadaan Arca Siwa Mahadwa yang gagah berdiri denan tinggi 3 meter di bangunan utama.

Selanjutnya, Candi Prambanan terus disempurnakan oleh raja-raja setelahnya, seperti Raja Lokapala, Raja Balitung, Sambu, dan Raja-raja Medang Mataram. Oleh karena itu jumlah candi mencapai ratusan.

Menutur para sejarawan, Candi Prambanan dimanfaatkan sebagai lokasi untuk upacara kerajaan juga tempat berkumpulnya Brahmana dalam mempelajari kitab Weda.

Seiring berjalanannya waktu,  Candi Prambanan terlantar, terabaikan, dan hilang. Hal ini tak lepas dari dipindahkannya ibukota aibat letusan besar Gunung Merapi sekitar tahun 930. Candi ini ditemukan kembali oleh CA. Lons dari Belanda pada tahun 1733, dan terus mengalami pemugaran.

Ada ratusan candi di kompleks Candi Prambanan. Terdiri dari 3 Candi Trimurti yaitu Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Tiga Candi Wahana yaitu Candi Nandi, Garuda, dan Wangsa. Dua Candi Apit yaitu antara Candi Trimurti dan Wahana. Empat Candi Kelir yaitu empat penjuru mata angin di balik pintu masuk. Empat Candi Patok yaitu empat sudut halaman dalam. Kemudian 224 Candi Perwara, empat barisan konsentris candi 44, 52, 60, dan 68.

Dari 224 candi tersebu, sekarang ini diperkirakan tersisa hanya 18 candi yaitu 8 candi utama, 8 candi kecil, dan dua candi perwara.

Pada relief di Candi Prambanan juga menceritakan kisah yang tak asing di telinga yaitu kisah Ramayanan. Penculikan istri Rama yaitu Shinta oleh Rahwana.

Legenda Roro Jonggrang

Legenda Roro Jonggorang adalah dongeng yang berkembang dari cerita-cerita rakyat, yang menjelaskan asal muasal keraton Ratu Baka, Candi Sewu, dan Arca Durga di candi utama Prambanan.

Legenda ini ditafsirkan sebagai ingatan kolektif samar-samar masyarakat setempat akan peristiwa masa lampau, yaitu perebutan kekuasaan di antara Wangsa Sailendra dan Sanjaya. Prabu Baka bisa jadi dimaksudkan untuk Raja Samaratungga, Rakai Pikatan sebagai Bandung Bondowosa, dan Pramodhawardhani sebagai Roro Jonggrang.

Peristiwa sesungguhnya yaitu pertempuran Balaputradwa melawan Pramodawardhani yang dibantu oleh sang suami yaitu Rakai Pikatan.

Dongeng atau cerita rakyat tentang Roro Jonggrang yaitu bermula dari Kerjaaan pengging dana Kerajaan Baka. Kerajaan tersebut adalah kerajaan yang bertetangga. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya yang memiliki anak Bandung Bondowoso.

Kerajaan Baka dipimpin oleh Prabu Baka dari bangsa raksasa. Prabu Baka memiliki seorang putri bernama Roro Jonggrang.

Prabu Baka menyerukan perang kepada Kerajaan Pengging untuk memperluas kerajaan. Pertempuran pun terjadi. Bandung Bondowoso yang dikirim oleh Prabu Damar Maya berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka.

Saat Bandung Bondowoso masuk ke Kraton Baka, ia bertemu denga Roro Jonggrang dan terpikat akan kecantikannya, dan memutuskan untuk memperistri Roro Jonggrang.

Roro Jonggrang menolak permintaan Bandung Bondowoso, karena bagaimanapun Bandung Bondowoso adalah pembunuh ayahnya.

Tak menyerah, Bandung Bondowosan terus membujuk Roro Jonggrang agar menjadi istrinya. Akhirnyya, Roro Jonggrang pun setuju dan mengajukan syarat yang sulit untuk dipenuhi, yaitu membuat sumur. Syarat kedua yaitu membuat seribu candi dalam waktu satu malam.

Dikisahkan Bandung Bondowoso adalah orang yang sakti, ia berhasil membuat sumur dan sempat terkubur di dalamnya akibat ulah Roro Jonggrang yang memerintahkan patih Gupala menutup dan menimbun sumur dengan batu. Namun, Bandung berhasil keluar karena kesaktiannya.

Dalam membuat seribu candi, Bandung Bondowoso dibantu oleh makhluk halus dan berhasil menyelesaikan 999 candi dan hampir menyelesaikan seribu candi. Roro Jonggrang pun berusaha menggagalkan usaha Bandung Bondowoso, ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan desa agar menumbuk padi, dan membakar gundukan jerami di sisi timur untuk membuat ilusi fajar telah terbit.

Para makhluk halus pun kembali bersembunyi sebelum menyelesaikan candi ke seribu dan Bandung Bondowoso gagal memlbuat seribu candi. ia mengetahui jika kegagalannya disebabkan oleh tipu daya Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso pun murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi ke seribu.

Menurut cerita rakyat inu, situs Ratu Baka adalah istinan prabu Baka. Sebanyak 999 candi yang tidak selesai adalah Candi Sewu, dan arca Durga di candi utama Prambanan adalah Roro Jonggrang yang dikutuk.

Sayangnya, sekarang kita tidak boleh masuk ke bagian dalam candi untuk melihat isi di dalam candi untuk menjaga pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19. 

Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Candi Prambanan

Bagi wisatawan, selain belajar sejarah, foto-foto dan membuat video menjadi agenda yang tidak dapat ditinggalkan. Ada banyak spot foto di Candi Prambanan. Tapi spot yang kusukai yaitu yang menampakkan keseluruhan candi.

Letaknya sebelum masuk ke area candi-candi utama, ada banyak tumpukan-tumpukan batu di lokasi tersebut. Dari sini terlihat megahnya Candi Prambanan.

Foto wisuda di Candi Prambanan

Berpose di depan Candi Prambanan

Keluar dari area Candi Prambanan, akan masuk ke area taman bermain. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan seperti bermain hoverboard, sepeda, scooter, dan lain-lain. Semua itu bisa disewa.

Selain itu juga bisa berkunjung ke Museum Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu.

Di Kompleks Prambanan ini juga ada Kandang Rusa, sehingga pengunjung bisa menikmati waktu bersama keluarga dan orang-orang tersayang sembari mengenalkan salah satu satwa dan memberi makan secara langsung.

Ada beberapa restoran juga yang tersedian, gelato, dan lain-lain. Jika terus berjalan menuju pintu keluar kita akan melewati kios makanan. Ada banyak ibu-ibu yang memanggil-manggil untuk mampir di kiosnya.

Kios makanan di Prambanan

Aku, Rani, dan Asna memutuskan untuk singgah sejenak di salah satu kios makanan memesan es degan, Pop Mie, dan mi ayam.

Dari sini, kita akan melewati kios souvenir. Seperti pasar dari ujung ke ujung, lorong ke lorong banyak pedagang menawarkan produk-produk khas Jogja, mulai dari kaos, daster, pakaian bapak-bapak, anak-anak, dan lain-lain semua tersedia.

Harganya juga murah-murah, di antara semua lokasi oleh-oleh di Jogja yang pernah kukunjungi, di Candi Prambanan lah yang menurutku paling murah. Gantungan kunci satu buah seharga Rp1.000 bahkan bisa dapat bonus jika beli banyak.

Kios souvenir Prambanan

Oleh-oleh Prambanan

Berbelanja baju di Prambanan

Tas-tas rajut juga dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah, tergantung bagaimana kita menawarnya. Jangan berfokus hanya pada satu tempat, dengan produk yang sama kita bisa mendapatkan harga yang jauh berbeda bahkan untuk kios di sebelahnya.

Jika ingin berburu oleh-oleh, kios di Candi Prambanan sangat aku rekomendasikan.

Cerita di Prambanan hari itu, kami tutup dengan makan siang di Kedai Ayam Goreng Olive di seberang jalan. Cerita selanjutnya, masih di hari yang sama tentang Keliling Jogja seharian part 3. 

Jangan bosan-bosan membaca ceritaku ya.



Saturday, February 11, 2023

Keliling Yogyakarta dalam 1 Hari Part 1

Alun-alun Kidul Jogja

Akhirnya aku berkesempatan lagi mengunjungi Kota Yogyakarta atau kerap disingkat menjadi Jogja, YK, dan DIY. Kali ini merupakan rangkaian dari family gathering Anak Ibu Keponakan yang sebelumnya dilakukan di Kota Malang, Jawa Timur.

Baca Juga: Santerra de Laponte

Perbedaan dari sebelumnya, keliling Jogja ini yaitu bersama Anak Ibu Keponakan (tanpa ibu). Aku berangkat dari Kota Solo menggunakan KRL, kakakku Asna dan sepupuku Rani berangkat dari Ponorogo mengendarai sepeda motor, dan kami berjanji untuk bertemu di Jogja.

Meskipun Rani kuliah di Jogja tetapi ia tinggal di asrama kampusnya, jadi karena tidak ada saudara atau teman untuk menginap gratis, kami memilih salah satu penginapan yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota.

Kami pun menyewa satu sepeda motor di sekitar kampus Rani. Lumayan sangat murah, barangkali karena sewa sepeda motor ini khusus mahasiswa jadi kami bisa mendapatkan harga miring. Sebelumnya, aku pernah menyewa sepeda motor dengan harga Rp75 ribu per hari. Namun, di penyewaan ini hanya sekitar Rp40 atau Rp50 ribu per harinya.

Nama tempatnya adalah Sri Rental Montor Khusus Mahasiswa yang berada di Sumberan RT 10 Ngestiharjo, Kasihan, Bantul (0856 4334 8118/0851 5616 0240). Cukup menyerahkan dua tanda pengenal sudah bisa menyewa sepeda motor di sini. Namun, aku tidak memastikan apakah bisa disewa oleh wisatawan atau tidak, barangkali jika Kamu mahasiswa bisa coba untuk menanyakannya terlebih dahulu, tetapi jaraknya agak jauh dari Stasiun Yogyakarta.

Baca Juga: Tips Sewa Sepeda Motor

Aku sampai di Jogja hampir pukul 5 sore, dijemput oleh Rani dan langsung merental sepeda motor, kemudian menuju ke penginapan.

Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta

Awalnya aku bingung karena Rani dan Asna menyebut-nyebut Alkid, Alkid, dan Alkid. Sependengaran dan sepenangkapanku bukan Alkid tapi all kid. Ternyata Alkid adalah singkatan dari Alun-alun Kidul. Maafkan aku yang norak ini.

Alun-alun Kidul adalah halaman belakang Keraton Yogyakarta, berupa tanah lapang luas berpasir yang ditumbuhi rerumputan dengan luas sekitar 160 m x 160 m. Di sekeliling alun-alun terdapat pagar tembok batu yang tingginya 2,2 m.

Tidak mau kehilangan momen di Jogja, setelah maghrib kami langsung beranjak dan menuju ke Alun-alun Kidul. Saat itu adalah akhir pekan dan masih minggu pertama di bulan Januari. Jalanan sangat padat dengan masyarakat, aku pun tidak tahu apakah itu wisatawan luar daerah atau warga lokal. Semuanya terlihat sama.

Pelan tapi pasti, kami mencari tempat parkir paling strategis dan kosong, banyaknya manusia di Alun-alun Kidul sempat membuat kami kesulitan mendapatkan tempat untuk parkir. Namun, usaha tentu berbuahkan hasil Kawan.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Alun-alun Kidul, terutama kulineran. Rani sudah mengincar pokat kocok sedari sebelum berangkat tadi. Harga-harga jajanan di Alun-alun Kidul juga tidak jauh berbeda dari pusat-pusat keramaian serupa.

Sebelum mencari lokasi sempurna untuk duduk, kami terlebih dahulu berburu makanan dan minuman sebagai teman bersantai nanti. Selain pokat kocok, kami membeli baby crabs, telur gulung, dan lain-lain.

Kulineran di Alun-alun Kidul Jogja

Puas berburu kuliner, kamu menuju tanah lapang dan mencari lokasi paling enak untuk duduk. Sangat banyak orang di lapangan tersebut, duduk beralaskan rumput sembari bercengkerama menikmati makanan ringan atau sekadar mengobrol saja.

Anak Ibu Keponakan (tanpa ibu) family

Di tanah lapang ini ada sepasang pohon beringin yang sangat besar dan tua. Konon katanya, jika berhasil lewat di antara dua pohon beringin tersebut dari jarak 20 meter dengan menutup mata maka itu adalah manusia berhati bersih dan lurus. Nama permainan ini adalah masangin. Tapi aku tidak ingin mencobanya.

Mengeliling tanah lapang di Alun-alun Kidul ini ada banyak sekali odong-odong dan sepeda tandem dengan lampunya kelap-kelip berwarna-warni. Selain hanya duduk di tanah lapang, sepertinya gowes dengan kendaraan tersebut bisa menjadi cara menyenangkan untuk menghabiskan waktu. 

Malioboro Yogyakarta

Puas menikmati di Alun-alun Kidul Jogja, kami memutuskan untuk berkunjung ke destinasi yang sangat populer di Kota Yogyakarta. Apalagi kalau bukan Malioboro. 

Biasanya, aku jalan-jalan ke Malioboro selalu jalan kaki dari Stasiun Yogyakarta hingga ke Titik Nol KM, kemudian ke Jalan Pangurakan, lalu ke Alun-alun Utara. Namun, karena mengendarai sepeda motor, kami sangat bingung di mana harus memarkirkan kendaraan, bahkan harus berputar-putar tak tentu arah saking tidak tahunya, dan melewati Titik 0 KM Yogyakarta bahkan sampai dua kali.

Itulah akibat dari menyepelekan kata pepatah Malu Bertanya Sesat di Jalan. Akhirnya kami mendapatkan lokasi parkir di depan Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta tak jauh dari Jalan Pangurakan. Padahal jika jeli ada banyak lokasi parkir yang bisa menjadi pilihan.

Sayang sekali, malam itu Jogja sedang sedih. Tetesan-tetesan air dari langit turun ke bumi, gerimis hingga deras dan membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Pun kami, menunggu hujan reda cukup lama dan tidak bisa mengeksplorasi Malioboro secara utuh.

Memang benar lirik lagu Adhitia Sofyan berjudul Sesuatu di Jogja. "Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja". Ada saja cerita menarik di Kota Pelajar ini.

Lama menunggu hujan yang tak kunjung reda hingga hampir tengah malam. Kami pun menembus hujan. Besoknya masih ada destinasi yang akan kami kunjungi. Sepatu hanya satu dan kuputuskan untuk memasukkannya ke dalam bagasi sepeda motor dan nyeker sepanjang perjalanan kembali ke penginapan.

Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya, masih tentang Jogja. Part 2!

Wednesday, November 30, 2022

Melihat-lihat Pameran Temporer Keraton Jogja: Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta

Pameran Temporer Keraton Yogyakarta

Masih dalam edisi jalan-jalan di Yogyakarta. Tidak tahu arah ke mana harus menuju, aku dan Diah akhirnya menginjakkan kaki di Keraton Yogyakarta, membeli tiket seharga Rp15 ribu. Kami mendapatkan sebuah gelang kertas (seperti gelang konser) dan tiket masuk pameran temporer Keraton Yogyakarta.

Ternyata, pada saat kami datang ke sana, sedang diadakan pameran temporer bertajuk Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta. Dari penjelasan guide, kami mendapatkan info, pameran seperti ini diadakan selama tiga bulan dalam satu tahun dengan tema yang berbeda-beda setiap tahunnya.

Pameran ini berlangsung sejak 29 Oktober 2022 hingga 29 Januari 2023, bercerita tentang masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III dan Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Pameran ini digelar di Kompleks Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Sumakala, berasal dari kata suma dan kala. Suma berarti layu, prihatin, guram, sedangkan kala berarti waktu, tahun, periode. Sumakala bermakna periode yang guram.

Sumakala adalah cerminan utuh dari masa krisis gempuran Raffles. Yogyakarta pada masa tersebut, tak hanya mengalami tekanan politik tetapi juga ekonomi.

Pameran ini bernuansa hitam, mulai dari masuk hingga keluar. Lampu berwarna putih menjadi sumber cahaya dalam pameran ini, menambah suasana temaram dan merasakan kembali guramnya tahun-tahun tersebut. hal ini mungkin menyesuaikan dengan tema yang diambil yaitu Sumakala. Pengunjung akan diajak flashback ke tahun 1796 hingga 1823.

Ringkasan Pameran Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta

Pada tahun 1976 Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kedhaton melahirkan Raden Mas Surojo pada tanggal 20 Februari, yang nantinya akan menggantikan ayahnya sebagai Sultan Hamengku Buwono III.

Tahun 1804, GKR Kencono melahirkan Gusti Raden Mas Ibnu Djarot (putra dari Putra Mahkota Raden Mas Surojo) pada tanggal 3 April. Kelak, ia menggantikan ayahnya dan menjadi Sultan Hamengku Buwono IV.

Tahun 1810, Gusti Raden Mas Surojo diangkat sebagai 'regent' wakil raja oleh HW Deandels dalam pemerintahan di Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1811, ia dikembalikan menjadi putra mahkota pada saat pemerintahan Kolonial Belanda berganti oleh pemerintahan Inggris.

Tahun 1812 terjadi peristiwa geger sepehi, yaitu penyerbuan Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh Inggris untuk menggulingkan Sultan Hamengku Buwono II karena menolak kerja sama. Pasca peristiwa ini, Gusti Raden Mas Surojo naik takhta dan dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono IV. Kemudian Gusti Raden Mas Ibnu Djarot diangkat sebagai putra mahkota.

Namun, pada tahun 1814, Sultan Hamengku Buwono III wafat karena sakit, sehingga Gusti Raden Mas Ibnu Djarot yang pada saat itu masih berusia 10 tahun naik takhta menggantikan ayahnya dan menjadi Sultan Hamengku Buwono IV.

Tahun 1815 Sultan Hamengku Buwono IV dikhitan. Selanjutnya ia menikah pada tahun 1816. Pada tahun yang sama, pemerintahan inggris kembali digantikan oleh pemerintahan Belanda, dimana tidak ada perubahan kebijakan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IV.

Tahun 1820, saat Sultan Hamengku Buwono IV berusia 15 tahun ia mulai menjalankan pemerintahannya sendiri. Namun sayang, beliau wafat pada tiga tahun setelahnya yaitu pada tahun 1923 ketika ia berusia 19 tahun dengan sebab yang dipertanyakan, terlebih ia meninggal saat sedang bertamasya.

Itulah ringkasan pameran temporer Keraton Yogyakarta terkait Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta. Sedih sekali ya kisah-kisah para sultan tersebut.

O ya, dalam pameran ini dipeihatkan berbagai koleksi dari keraton mulai dari lukisan-lukisan ilustrasi tentang kenaikan takhta sultan, pakaian, busana permaisuri, busana penari bedhaya durma kina, arsip-arsip, hingga kereta-kereta kebesaran yang dipakai oleh para sultan tersebut, dan lain-lain.

Ilustrasi kenaikan takhta Sultan Hamengku Buwono IV

Busana penari bedhaya durma kina

Busana permaisuri sultan

Beberapa benda peninggalan seperti arsip dan benda-benda yang dipajang di dalam kaca dilarang untuk difoto untuk menjaga keasliannya.

Itulah sedikit cerita perjalanan kilas balik masa pemerintahan Keraton Yogyakarta pada tahun 1796 hingga 1823, yang dirangkum dalam pameran Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta.







Monday, November 28, 2022

Menikmati Sunset di Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis

Siapa sih yang tidak suka sunset alias matahari tenggelam. Mau anak senja, anak mama, anak papa, anak layangan, pasti banyak yang suka. Kenapa suka dengan sunset atau senja? karena senja tau bagaimana berpisah dengan cara yang indah.

Salah satu tujuanku ke Jogja beberapa waktu lalu adalah menikmati sunset di Pantai Parangtritis, sudah lama sekali aku menantikannya. Aku selalu bilang ke teman-temanku yang mengajak ke Jogja dan bertanya "nanti ke Parangtritis ngga? Ke Pantai Parangtritis yuk".

Masih dalam rangkaian wisata ke Jogja. Setelah dari Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta aku dan Diah langsung bertolak ke Pantai Parangtritis untuk melihat sunset.

Baca Juga: Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta

Di Map tertulis perlu waktu sekitar 38 menit dari Hutan Pinus Mangunan menuju Pantai Parangtritis. Kami pun mengikuti jalan tersebut, melewati jalanan yang menurun, gang-gang kecil, rumah-rumah warga, dan jalanan sepi dengan pemandangan sawah yang indah.

Dibalik keindahan yang kami lihat sepanjang perjalanan, ada satu kekhawatiran dalam hatiku. Melihat sunset berarti pulang lewat waktu maghrib, jalanan yang kami lewati cukup sepi, kami berdua perempuan di rantau orang, motor kami motor pinjaman, bagaimana dengan nasib kami nanti. Ya begitulah pikiran-pikiran buruk yang menghantuiku selama perjalanan.

Jalanan sepi berubah menjadi ramai ketika kami berbelok ke Jalan Parangtritis, kami sedikit lega dan berharap saat pulang nanti tidak melewati jalanan sepi tadi.

Masuk ke area wisata Pantai Parangtritis, kita melewati sebuah gerbang. Ada beberapa penjaga di situ yang menyodorkan tiket masuk senilai Rp10 ribu per orang.

Hari itu hari Jumat, tidak terlalu ramai. Beberapa tukang parkir melambai-lambaikan tangannya mengarahkan sepeda motor kami untuk parkir di lokasi-nya. Ada banyak sekali kedai-kedai yang menjual makanan dan minuman. Tak lupa, penjual topi-topi cantik di mana-mana.

Sebelum parkir, aku memutuskan untuk menjelajah hingga agak sedikit ke ujung untuk menyurvei, lokasi parkir mana yang paling strategis menuju pantai, ramai, tidak jauh jika ingin ke mana-mana.

Setelah parkir, toilet menjadi tujuan selanjutnya. Seperti pantai pada umumnya, di Pantai Parangtritis ini juga banyak toilet-toilet umum berbayar, tinggal pilih saja yang paling nyaman. Musala juga banyak disediakan. Selain musala sekadarnya berjalan agak sedikit jauh ke arah keluar juga terdapat sebuah musala yang bagus dan cantik.

Tidak tahu ada perayaan apa, tapi ada sebuah keramaian yang menarik hati kami untuk mendekat, ternyata pertunjukan jatilan. Penari-penari kelihatannya sudah kesurupan, hanya terlihat mata yang putih semua. Diah takut, jadi kami segera meluruskan tujuan untuk melihat Pantai Parangtritis.

Kami tiba di sana sekitar pukul tiga lewat. Foto-foto dan buat video alakadarnya. Beli jajan, minum, makan gorengan, makan pentol sambil duduk di atas kayu tua di atas pasir, melihat orang-orang berlalu lalang. Ada yang jalan kaki, ada yang mengendarai ATV, ada yang naik kuda, naik dokar, ada yang berfoto-foto, bermain air, dan lain-lain.

Pantai tempat Ratu Kidul bersemayam ini memang tidak untuk berenang. Ombaknya cukup tinggi, dikhawatirkan bisa tertarik ombak hingga ke laut. Kan serem juga yaa.

Pada pukul 17.00 WIB, awan terlihat menutupi langit senja kala itu. Aku sedikit khawatir tidak bisa melihat sunset. Orang-orang mulai beranjak dari pantai, hari semakin gelap. Meskipun sebelumnya kami sudah bertanya kepada tukang parkir, apakah rute ke Jogja cukup ramai, dan tukar parkir menjawab yaa, sangat ramai, tinggal lurus saja sudah sampai ke Jogja. Aku tetap saja khawatir.

Pantai Parangtritis

Langit tak menunjukkan tanda-tanda akan memberikan perpisahan dengan nuansa sunset yang indah. Waktu terus berlalu, pantai semakin sepi, meski ada beberapa orang yang kupikir juga sedang menunggu sunset.

Aku tau, tapi aku tetap khawatir, perasaanku berkata, "sudah pulang saja, tidak akan ada sunset yang indah di sini". Aku tak mengabaikan suara hati kecilku. Aku mengajak Diah untuk beranjak dan pulang sebelum maghrib tiba. Kami gagal menikmati sunset. Semoga nanti aku diberikan kesempatan dan keberanian lebih besar agar bisa menikmati sunset di Pantai Parangtritis.

Joko Kendil di Parangtritis

Benar saja yang dikatakan tukang parkir tadi, jalan menuju Jogja hanya tinggal lurus tanpa harus berbelok, jalanan juga cukup ramai dengan kendaraan baik roda dua ataupun roda empat. Bukan seperti jalan yang kami tempuh seperti dari Mangunan tadi.

Ketika melewati jembatan, senja mulai tiba, kulihat mega merah menyala dari arah barat, aku membayangkan betapa indahnya sunset di Pantai Parangtritis, sedikit menyesal aku buru-buru beranjak tanpa menunggu terlebih dahulu. Hahaha, memang bukan rezeki.

Akhirnya kami sampai di Jogja dengan selamat, meski sedikit diguyur hujan ketika memasuki area kota. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya yaa...

Pantai Parangtritis


Friday, November 25, 2022

Wisata Alam Jogja: Hutan Pinus Mangunan

Hutan Pinus Mangunan

Bagiku wisata alam selalu menawarkan pesona luar biasa, hanya saja jarak yang ditempuh selalu lebih jauh dari biasanya. Kali ini aku berkesempatan mengunjungi salah satu wisata alam yang cukup terkenal di Jogja, yaitu Hutan Pinus Mangunan. 

Wisata Alam Jogja, Hutan Pinus Mangunan berjarak sekitar 40 menit dari Kota Yogyakarta menggunakan sepeda motor. Aku berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta sekitar pukul 10.00 WIB, kemudian menitipkan barang di penginapan, dan benar-benar berangkat ke Hutan Pinus Mangunan sekitar 10.30 WIB. 

Baca Juga: Travelling Naik Sepeda Motor Ke Jogja: Kemana Aja 

Bermodalkan peta, alias Map, aku dan Diah menyusuri jalanan Yogyakarya, mulai dari jalanan yang macet, padat, panas, hingga jalanan yang lengang. Hutan Pinus Mangunan ini berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Seperti hutan pinus pada umumnya, hutan ini berada di dataran tinggi, sehingga akan sangat lebih baik jika menyiapkan sepeda motor dan memastikan motor dalam keadaan baik-baik saja. Jalanan yang berliku dan menanjak akan membuat sepeda motor berjuang ekstra untuk sampai ke tujuan. 

Kami mengendarai Honda Genio, entah aku yang kurang pandai atau memang seperti itu, gas ditangan kanan sampai mentok untuk dapat menanjak. Berkali-kali kuperingatkan Diah di boncengan belakang, untuk duduk lebih depan sedikit agar beban motor tidak terlalu berat, untung saja kami bisa sampai tujuan dengan selamat. 

Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta 

Map membawa kami ke jalan yang benar dan tujuan yang sesuai. Sesampainya di sana, kami langsung memarkirkan sepeda motor, saat masuk lokasi parkir ada petugas yang memberikan karcis parkir senilai Rp3 ribu. 

Fasilitas di Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta ini sangat lengkap, tidak perlu repot mencari makan, mencari toilet, mencari musala, dan lain-lain. Semua sudah tersedia. 

Karena kami sampai pukul 12 lewat, tentu saja perut sudah keroncongan. Segera kami duduk di salah satu dari warung-warung yang berjejer tak jauh dari tempat parkir, memesa Pop Mie, mi ayam, mendoan, dan minuman sebagai pelepas lapar dan dahaga. 

Aku baru pertama kali ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta, wisata Yogyakarta juga belum banyak kudatangi. Tapi, menurutku harga-harga makanan di tempat ini sangat terjangkau dan tidak jauh berbeda dengan harga di kota. Kupikir karena berada di lokasi wisata maka akan jauh lebih mahal, tapi ternyata tidak. 

Harga Pop Mie Rp8 ribu, mi ayam Rp10 ribu, dan empat lembar mendoan Rp5 ribu, harga yang biasa kita temui bukan? 

Setelah kenyang kami langsung menuju Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta yang tepat berada di seberang jalan dari area parkir. Meskipun kami datang siang, pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi memberikan keteduhan, dan angin segar khas dataran tinggi membuat kami sama sekali tidak merasa kepanasan. 

Masuk ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta, dikenakan biaya masuk Rp5 ribu per orang, kami bisa menikmati pemandangan pohon pinus sepuasnya. Di sini diharuskan membayar dengan uang pas dan bisa juga menggunakan QQRIS

Masuk ke Hutan Pinus Mangunan

Berikut daftar harga dan fasilitas lainnya di Hutan Pinus Mangunan 

Prewedding: Rp200 ribu

Video Clip: Rp250 ribu

Sewa aula: Rp250 ribu

Sewa tempat: Rp250 ribu

Film komersil: Rp3,5 juta

Sewa panggung non komersil: Rp1 juta.

Hutan Pinus Mangunan

Seperti hutan pinus pada umumnya, tentu saja banyak pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Bedanya dari hutan-hutan pinus yang pernah kudatangi, di sini dibuatkan titian dari kayu yang ditata rapi sehingga kita bisa menjelajahi hutan pinus tanpa takut kotor. 

Baca Juga:  Wisata Jawa Tengah: NIkmati Keindahan VIP Camp Bukit Sekipan Tawangmangu 

Kemudian di bagian lainnya terdapat panggung lengkap dengan tempat duduk penonton yang ditata permanen. Sayangnya, saat kami ke sana sedang tidak ada agenda, yah kami juga datangnya tidak saat weekend

Hutan Pinus Mangunan

Baca Juga: Wisata Kampar: Hutan Pinus Bukit Candika Bangkinang 

Selain hutan pinus, di sini juga bisa memberi makan burung dara yang jumlahnya sangat banyak. Karena aku kurang suka, ya udah jadi cuma foto-foto saja.

Aku dan Diah

Jangan lupa membawa air mineral saat berkunjung ke sini. Biasanya aku selalu bawa, tapi kemarin lupa  jalan kaki di titian berkelok membuat jalan semakin panjang dan haus. 

Puas menikmati pemandangan dan berfoto-foto, kami pun beranjak dari hutan pinus dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya, yaitu menikmati sunset di Pantai Parangtritis. 

Nambah sedikit ya teman-teman, sebelumnya aku bercerita kalau jalan menuju Hutan Pinus Mangunan amatlah menanjak, nah pas baliknya atau pas kami menuju ke Pantai Parangtritis jalanan yang kami tempuh menjadi turunan, tanpa digas pun motor tetap melaju dengan kecepatan tinggi, ini sangat menyenangkan. 

Sekian dulu cerita perjalanan kali ini yaa...

Thursday, February 21, 2019

Kisah Cinta Arjuna dan Srikandi dalam Epos Mahabhrata Versi Tanah Jawa

Arjuna dan Srikandi, lukisan ini dibuat dengan cara membatik

Siapa tak kenal dengan tokoh wayang yang dikisahkan sebagai pemuda gagah nan tampan bersenjatakan bu
sur panahan. Ya, dia adalah Arjuna, salah satu pandawa putra Pandu. Meskipun sebenarya Arjuna adalah putra dari Dewa Indra.

Dulu aku tahu Srikandi adalah sosok perempuan hebat yang memiliki kemampuan seperti laki-laki, berperang dan menjadi pahlawan. Tak heran jika ada perempuan hebat dari suatu tempat, selalu diberi julukan Srikandinya bla bla bla, atau Srikandinya Indonesia dan lain-lain.

Arjuna dan Srikandi, selalu erat kaitannya dengan epos Mahabrata di India atau barathayudha di Indonesia. Tapi dari kedua negara tersebut memiliki kisah yang berbeda. Aku akan menceritakan Srikandi dan Arjuna dari kisah wayang Jawa.

Srikandi adalah putri dari Raja Drupada. Alkisah para dewa memerintahkan agar Raja Drupada membesarkan Srikandi layaknya seorang laki-laki. Srikandi pun belajar teknik berperang bahkan berpakaian seperti laki-laki. Bahkan Srikandi terkenal sebagai pemanah terhebat di Kerajaan Panchala.

Suatu ketika ia bertemu dengan Arjuna di suatu tempat. Arjuna yang tampan nan rupawan berhasil memikat Srikandi. Sebagai wanita, Srikandi juga sempat bersikap jual mahal dengan Arjuna. Tahu cintanya tak bertepuk sebelah tangan, Srikandi menantang Arjuna.

Srikandi bersedia menerima pinangan Arjuna, jika ada perempuan yang berhasil mengalahkannya dalam hal memanah. Arjuna meminta Larasati untuk menjadi lawan Srikandi. Srikandi kalah (aku pikir Srikandi sengaja membuat dirinya kalah agar bisa jatuh dalam pelukan Arjuna secara elegan wkwkwk), tapi ia belum bisa menerima kekalahannya.

Srikandi menantang Larasati untuk berduel dengannya dalam hal berkelahi. Jika Srikandi kalah, Larasati boleh menjadi istri Arjuna. (Menurutku Srikandi bersikap aneh, kenapa ia mau dimadu? Jika ia kalah maka ia tak mendapatkan cinta Arjuna, jika Larasati menang, maka Srikandi harus berbagi cinta dengan Larasati. Belum lagi dengan istri-istri Arjuna yang lain).

Akhirnya Srikandi kalah dan menikah dengan Arjuna juga berbagi cinta dengan Larasati. Ketika perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, Srikandi turut serta dalam perang bahkan menjadi panglima. Ia menjalankan takdirnya.

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi adalah Dewi Amba, kekasih Bisma. Sebelum ia mati di tangan Bisma, ia bersumpah akan menjemput Bisma suatu hari nanti untuk bersanding di nirwana. Benar saja, melalui perintah Krisna, Srikandi membunuh Bisma dengab busurnya.

Arjuna berperang karena kesakitan atas penganiayaan, tapi Srikandi berperang karena cinta.

Dalam kisah wayang, Arjuna dikenal memiliki 41 istri. Karena keelokan rupanya, Arjuna berhasil memikat wanita hingga dengan sukarela menyerahkan diri untuk Arjuna.

"Jangan sekali-kali memasang lukisan Arjuna di rumah, nanti istri marah," kata seorang abdidalem Keraton Ngayogyakarta.

Abdidalem atau pegawai keraton tersebut menjelaskan lukisan yang dibuat di atas kain dengan cara membatik. Lukisan Arjuna dan Srikandi dibuat dalam bentuk wayang Jawa, dilapisi dengan tinta emas. Ketika diletakkan di bawah sinar matahari lukisan itu berkilauan dengan warna emasnya.

Setelah menelisik kisah Arjuna, paham lah aku mengapa abdidalem melarang memasang lukisan Arjuna. Arjuna Sang Playboy. Padahal ia tak menggoda wanita untuk jatuh cinta padanya, hanya saja ia tak menolak wanita yang datang padanya. Aish Arjuna, kau benar-benar Playboy.

Dalam ruang itu, abdidalem juga menunjukkan lukisan-lukisan yang dibuat dengan cara membatik, seperti lukisan Yesus, kereta kencana, pemandangan, hingga lukisan Nyai Roro Kidul juga ada. Ia menjelaskan dengan bersemangat dan mengantarkan kami berkeliling ruangan untuk memperlihatkan lukisan-lukisan lainnya.




Sunday, February 17, 2019

Catatan Backpacker Gagal: Kereta Murah, Solo - Semarang


Ini adalah sebuah kisah perjalanan anak millenial yang tak pandai memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Alhasil kisah tragis menghapiri. Bukan untung malah buntung. Semoga bisa dijadikan pelajaran.

Kegagalan adalah pengalaman terbaik, itu yang pernah orang katakan. Aku ingin sedikit berbagi tentang pengalaman gagalku menjadi seorang backpacker.

Hal yang harus dilakukan oleh seorang pelancong adalah menghemat sebisa mungkin ongkos perjalanan. Kesalahan yang aku lakukan adalah ketika melakukan perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta. Juga dari Yogyakarta ke Semarang.

Aku menerima mentah-mentah informasi yang kuterima. Tanpa menggali dan menanak informasi, jadilah informasi setengah matang, bahkan bisa dikatakan kurang layak untuk dimakan. Ini hanya perandaian kawan.

Informasi: Untuk sampai di Yogyakarta bisa menggunakan kereta api dengan biaya Rp. 10 ribu dari Semarang dan berhenti di Solo. Kemudian dari Solo naik kereta api lagi ke Yogyakarta dengan biaya Rp.  8 ribu. Pergilah pagi-pagi sekali, karena tiket tidak bisa dipesan online. 

Itu informasi mentah. Tak diolah sehingga tak berfaedah, karena pada akhirnya aku dan teman-temanku memilih transportasi menggunakan jasa taksi online.

Baca juga: Semarang to Magelang: Wisata Candi Borobudur

Pulangnya, kami memutuskan untuk memakai jasa kereta api demi melakukan penghematan. Jika naik bis hanya perlu membayar sebanyak Rp. 25 ribu dari Yogyakarta ke Semarang. Kalau naik kereta api, kan cuma Rp. 18 ribu. Hitung-hitung hemat Rp. 7 ribu. Bisa buat beli makan siang.

Kami bangun pagi, dan sampai di Stasiun Yogyakarta pukul lima subuh. Dunia sudah sedikit lebih terang di sana. Kami memesan tiket menuju Solo. Sempat kutanyakan kepada mbak-mbak penjual tiket. "Mbak, dari Solo ke Semarang berapa ya?" tanyaku.

"Dari Solo ke Semarang Rp. 48 ribu, berangkatnya jam delapan malam," jawabnya.

Sebelum memutuskan untuk pergi ke Solo kami berunding terlebih dahulu. Kenapa begitu mahal, bukannya Solo-Semarang cuma Rp. 10 ribu. Kami datang subuh hari bukan untuk berangkat malam. Kami berunding tanpa bertanya, tanpa mencari informasi selengkap-lengkapnya. "Gimana kalau yang murah tu nanti gak ada?" Nia sedikit cemas.

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat naik kereta api tujuan solo. Berharap tiket murah masih ada. Kami berpikir membeli secara langsung akan dapat harga yang lebih murah, terbukti tiket yang dijual online dari Yogya ke Solo seharga Rp. 32 ribu. Tetapi jika beli secara langsung hanya Rp. 8 ribu.

Nurul dan Nia

Tiba di Solo, kami langsung mengantri di loket penjualan tiket. Harga yang tawarkan tak berbeda jauh dengan harga yang dikatakan mbak-mbak di Solo tadi. Lemas mendengar hal itu, kami kembali berunding untuk menentukan masa depan keuangan kami. Aku, Nia dan Nurul.

Usut punya usut, ternyata kereta murah itu memang benar adanya. Hanya informasi yang kami dapatkan terlalu dangkal. Setelah bertanya ke sana ke mari dan tak lupa tanya Google. Akhirnya kami menemukan jawabannya.

Tiket Kereta Murah Solo-Semarang,  Semarang-Solo

Ternyata kereta yang dimaksud adalah Kereta Api (KA)  Kalijaga. Kereta ini hanya punya satu jadwal pergi dan satu jadwal pulang dalam satu hari. Ka Kalijaga memulai hari dari Stasiun Solo Balapan dan berakhir di Stasiun Semarang Poncol. Kemudian kembali lagi menuju Solo.

Rute Ka Kalijaga dimulai dari Stasiun Solo Balapan, kemudian Salem, Gundih, Telawa, Kedungjati, Brumbung, Semarang Tawang dan terakhir Semarang Poncol.

Untuk memesan pun tidak bisa sembarangan. Tiket hanya bisa dipesan di loketnya langsung. Tidak bisa secara online atau melalui mini market.

Ka Kalijaga berangkat dari Solo pukul 05.20 am. Tentu saja kami ketinggalan kereta, karena kami berangkat dari Yogyakarta pukul 5 am dan sampai di Solo 8.30 am. Sudah dipastikan kami tidak mendapatkannya. Seharusnya, kami berangkat dari Yogyakarta lebih subuh, seperti waktu ketika Bandung Bondowoso menyelesaikan 70 % candinya. Dan pastikan sampai di Solo sebelum Ka Kalijaga menggerakkan roda-rodanya.

Baca juga: Menilik Kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Jika dari Semarang, tidak perlu terlalu terburu-buru bangun sebelum alarm berbunyi dan ayam berkokok. Karena Ka Kalijaga berangkat dari Semarang setelah menempuh perjalanan jauh dari Solo. Ka Kalijaga berangkat dari Stasiun Semarang Poncol pukul 9 am. Kemudian mampir di Stasiun Semarang Tawang pukul 9.07 am. Jadi bisa memilih mau lewat Stasiun Tawang atau Poncol.

Dulu kupikir kalau dari Semarang harus bangun subuh-subuh untuk dapatkan kereta. Aish bodohnya aku yang tak memanfaatkan teknologi.

Nasib Kami Setelah Tiba di Solo Balapan

Ning Stasiun Balapan
Rasane Koyo Wong Kelangan
Kowe Ninggal Aku
Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku

Nurul menyanyikan lagu Didi Kempot. Di Solo kami tidak tahu apa-apa. Bisa dikatakan kami adalah backpacker gagal. Tak mengeluhkan kesalahan, kami langsung bergerak menuju terminal bis. Melewati jembatan panjang seperti tak berujung yang ada di Stasiun Solo Balapan.

Aku menggendong ransel kecil di punggungku,  tas selempang yang muat banyak memberikan tekanan lebih di bahu kananku. Sedang di bahu kiri menanggung beban tote bag berisi makanan. Tangan kananku juga tidak bisa bergerak bebas karena membawa satu kantong plastik besar berisi belanjaan dari Yogyakarta. Bisa kau bayangkan betapa kelimpungannya aku kala itu.

Tak hanya aku, Nurul dan Nia pun bernasib serupa. Membawa barang dan memikulnya di badan di mana ada tempat bisa disangkutkan barang.

Lega kelegaan hangat, ketika berjalan di jembatan yang bernama Solo Sky Bridge ini, kami berjumpa dengan sebuah troli tanpa tuan. Berlari aku menyongsongnya, senang bahagia seperti remaja yang baru jatuh cinta. Wkwkwk.

Menyusuri Solo Sky Bridge

Jembatan ini sunyi sepi dan tak bernyawa, hanya kami bertiga dan satu orang yang tak ku kenal di belakang kami menyusuri jembatan yang lebih mirip seperti koridor ini. Ujung dari jembatan ini adalah Terminal Tirtonadi.

Dari Tirtonadi kami naik bis menuju Semarang seharga Rp. 30 ribu. Kata kernetnya, jika tujuan kami adalah Ngaliyan, Semarang. Maka kami harus turun di Terminal Sukun.

Buta dengan arah, tak tahu dengan tempat, kami hanya pelancong asing yang gagal menjadi backpacker. Kelewatan terminal menambah daftar kegagalan kami hari itu. Mengharuskan kami turun di terminal yang cukup jauh dari Ngaliyan. Terminal Terboyo Semarang.

Tentu saja kami harus putar arah, dari Terboyo menuju Ngaliyan. Berpindah ke bis reyot dan sudah pasti harus bayar lagi, meski Rp. 10 ribu, tetap saja itu uang. Alamak, sial kali nasib anakmu hari itu.

Bukan untung malah buntung, niat menghemat malah merugi. Itulah kami. Jika tahu akan seperti lebih mudah kembali ke Semarang dengan pesat tiket melalui aplikasi. Aish sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.

Kami diturunkan di Jalan Walisongo, tepatnya di depan Polsek Tugu, dekat dengan Kampus I UIN Walisongo. Dari situ kami memesan taksi online menuju kosan teman kami, Ainun.

Jangan hitung berapa biaya perjalanan kami hari itu. Yang jelas, tak sesuai perkiraan. Hahaha... Pengalaman seorang backpacker gagal. Semoga menjadi pelajaran untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Thursday, February 14, 2019

Mengunjungi Malioboro, Salah Satu Ikonnya Yogyakarta


Katanya, kalau belum berfofo di bawah papan nama Malioboro, belum sah datang ke Yogyakarta. Hahaha ada-ada aja, padahal destinasi Yogyakarta kan tidak cuma Malioboro.

Baca juga: Wisata Candi Borobudur

Malioboro itu apaan sih? Nama daerah? Bukan. Nama wisata? Bisa jadi. Jadi apa? Jadi Malioboro itu adalah salah satu jalan yang ada di Yogyakarta. Kenapa begitu terkenal?

Sebelum berjalan-jalan di Malioboro, aku dan teman-temanku mengunjungi Borobudur dan Prambanan dari pagi hingga sore. Awalnya kami berniat menghabiskan satu hari untuk menjelajah Borobudur, Prambanan dan Pantai Parang Tritis. Tapi Tuhan berkata lain. Karena ada satu kejadian, kami hanya bisa mengunjungi Borobudur dan Prambanan.

Baca juga: Candi Prambanan: Menilik Kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Hari sudah senja ketika mobil yang kami sewa menginjakkan rodanya di Malioboro. Seperti ada sebuah acara, jalanan macet. Kendaraan yang lalu lalang di jalan satu arah ini harus terus berjalan. Jika tidak maka akan diklakson dari belakang. Supir mencoba mencari tempat untuk parkir, tapi tak menemukannya.

Hari itu kami gagal berkunjung ke Malioboro. Dari dalam mobil,  aku melihat suasana menjelang maghrib sangat ramai kala itu. Muda-mudi bercengkrama dan aku melihat papan nama legendaris Malioboro. Oh, seperti ini to.

Dua temanku dari Aceh, langsung pulang menuju Semarang. Aku, Nurul dan Nia tinggal untuk dua hari lagi di Yogyakarta. Setelah mendapatkan penginapan, kami berencana menjelajah Malioboro.

Pukul delapan lewat, malam itu kami menuju Malioboro. Tidak seramai sore tadi, jalan-jalan nernuansa temaram. Banyak kursi di sepanjang trotoar Malioboro. Tak cukup kursi panjang, ada dudukan berbentuk bulat berwarna putih susu pucat yang bisa diduduki.

Kuliner Malioboro

Banyak kuliner malam di sepanjang Malioboro, tapi aku tak berani mencobanya. Kata Nurul harus berhati-hati. Jika tidak, alamat uang banyak melayang. Memang tidak semua makanan di Malioboro mahal, mungkin harus bertanya-tanya dulu sebelum membeli biar tidak merasa tertipu.

Pertunjukan Seni

Sebelum berkunjung aku menelusuru google, katanya ada banyak pertunjukan seni jalanan di Malioboro. Tapi mungkin aku datang di saat yang kurang tepat. Sebagai pejalan tak banyak uang, aku menelusuri jalanan Malioboro dengan kaki-kakiku yang tak kenal lelah ini. Tapi tak kutemukan musisi-musisi jalanan seperti yang dikatakan orang-orang.

Belanja Oleh-Oleh

Nah kalau yang ini, sangat banyak di sepanjang jalan Malioboro. Mulai dari pernak pernik seperti gelang, gantungan kunci, pakaian, hingga makanan. Tapi harus pandai-pandai menawar. Juga jangan terpaku hanya di satu tempat. Karena ada banyak pilihan, tak salah kan kalau mencari tempat lain dulu.

Papan Nama Malioboro

Papan nama legendaris ini tak pernah sepi. Banyak orang yang ingin berfoto bersamanya. Andai papan nama bisa bicara, mungkin ia akan mengatakan jika ia sudah lelah dengan pemotretan setiap hari yang tak kunjung henti.

Saking lejennya, aku pernah berfoto di background yang ada papan nama Malioboro di Museum Angkut. Ketika ku unggah di Instagram banyak yang mengira jika aku pergi ke Yogyakarta. Padahal kan aku cuma ke Malang kala itu.

Baca Juga: Ada Apa di Museum Angkut Malang

Setelah mendapatkan semua yang kami inginkan, akhirnya kami pulang menuju penginapan. Mendaki Borobudur, mengelilingi Prambanan, berjalan sepanjang Malioboro. Badan, terutama kakiku menuntut haknya. Berlayar ke Pulau Kapuk (tidur).

Tuesday, February 12, 2019

Candi Prambanan: Menilik Dongeng Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso




Dari Candi Borobudur aku dan teman-temanku bertolak menuju Candi Prambanan. Dzuhur waktu setempat kami tiba di lokasi. Karena tiket sudah kubeli di Borobudur maka tak perlu lagi membeli di Prambanan. Tapi bisa juga membeli tiket seharga Rp. 40 ribu.

Baca juga:

Semarang to Magelang: Wisata Candi Borobudur


Semilir angin sore yang cukup kencang menerbangkan pasir-pasir halus di kawasan Prambanan. Aku memakai kacamata agar pasir tidak membuatku kelilipan. Tentu saja kacamata ini disponsori oleh Nurul, aku hanya meminjam.

Aku menyukai Prambanan lebih dari Borobudur. Jika Borobudur adalah candi terbesar maka Prambanan adalah candi terindah. Arsitektur candi yang tinggi menjulang diterpa sinar matahari sore menambah kemegahan Prambanan.

Candi Prambanan selalu diindentikkan dengan cerita Roro Jonggrang. Siapa tak kenal dengan kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang melegenda. Kisahnya termuat dalam buku dongeng andalan anak zaman dulu, Cerita Rakyat Nusantara.

Alkisah Roro Jonggrang adalah seorang putri dari Prabu Boko, penguasa Kerajaan Boko. Prabu Boko memerintah kerajaan dengan bijaksana sehingga rakyatnya makmur sejahtera.

Namun semuanya berubah ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Pengging dan Kerajaan Boko. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya yang memiliki putra bernama Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso memimpin pertempuran dari Kerajaan Pengging. Ia terkenal sakti mandraguna dan berhasil menaklukkan Boko serta membunuh Prabu Boko.

Kemudian Bondowoso bertemu dengan putri Prabu Boko, Roro Jonggrang yang dikisahkan memiliki paras cantik nan jelita juga bertubuh ramping. Tak pelak, Bondowoso pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa pikir panjang Bondowoso melamar Roro Jonggrang untuk dijadikan istri.

Mengingat Bondowoso adalah ksatria yang menjajah kerajaannya dan membunuh ayahnya, Roro pun menolak lamaran Bondowoso. Tak menyerah, Bondowoso membujuk dan merayu Roro untuk menerimanya.

Akhirnya Roro menyetujui permintaan Bondowoso dengan syarat yang mustahil. Bondowoso harus membuat sebuah sumur dan membuat seribu candi dalam waktu satu malam. Bondowoso menyanggupinya.

Dengan kesaktian dan bantuan makhluk-makhluk gaib, Bondowoso berhasil membuat sumur dan hampir menyelesaikan candi sesuai dengan permintaan Roro. 999 candi telah siap. Kalap akan hal itu,  Roro Jonggrang membuat tipu muslihat.

Roro membangunkan dayang-dayang dan gadis-gadis untuk menumbuk padi, serta membakar jerami untuk membuat ilusi bahwa pagi telah tiba. Bala bantuan Bondowoso yang merupakan makhluk gaib ketakutan mengira pagi menjela, mereka meninggalkan Bondowoso.

Sadar telah ditipu, Bondowoso muntab dan mengutuk Roro Jonggrang. Menjadikannya candi ke seribu untuk menggenapi permintaan Roro Jonggrang.

Lalu benarkah dongeng tersebut? Dalam Candi Prambanan ada sebuah arca, menurut cerita ia adalah perwujudan dari Roro Jonggrang. Tapi tak akan kau temukan dalam candi tersebut nama Roro Jonggrang. Melainkan Dewi Durga.



Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang tentu saja hanyalah dongong belaka. Candi Prambanan adalah candi yang dibuat pada masa Kerajaan Medang Mataram yang dipimpin oleh Rakai Pikatan.

Candi ini memiliki arsitektur ramping dan menjulang tinggi, terdapat candi terbesar di mana patung Dewa Siwa tinggal di sana. Di kiri kanan candi utama terdapat candi-candi lain yang ukurannya lebih kecil.

Dari kiri ke kanan: Aku, Nurul, Nia dan Jelita


Candi yang dikenal sebagai candi terindah di Asia Tenggara ini, menurut Prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, dibangun untuk memuliakan Dewa Siwa, dengan nama asli dalam bahasa Sanskerta adalah Siwagrha berarti Rumah Siwa. Keberadaan arca Dewi Durga mengilhami masyarakat sehingga lahirlah kisah Roro Jonggrang.




Prambanan, Tempat Berburu Oleh-Oleh Terbaik Yogyakarta

Jika pergi ke Yogyakarta dan mencari barang-barang murah, Prambanan adalah pilihan terbaik. Harga sangat jauh dibandingkan dengan pusat perbelanjaan lainnya. Beda juga dengan harga oleh-oleh yang ditawarkan pedagang di Borobudur.

Satu hal yang kusesalkan adalah tidak berbelanja sepuasnya di Prambanan, karena salah satu kawanku mendesak untuk segera bertolak. Nurul menyarankan untuk berbelanja di Beringharjo. Beringharjo memang murah tapi di Prambanan jauh lebih murah.

Tempat pena di Beringharjo seharga Rp.  10 ribu, di Prambanan Rp. 5 ribu dapat dua buah. Tas rajut di Beringharjo bisa kutawar seharga Rp. 50 ribu, di Prambanan dijusl Rp. 35 ribu.

Begitu juga di Borobudur, aku membeli gantungan kunci sebanyak sepuluh buah dengan harga Rp. 20 ribu (Nurul beli seharga Rp. 15 ribu) di Prambanan satu buah gantungan kunci seharga seribu rupiah. SERIBU. bayangkan betapa kesalnya aku kala itu. Satu lagi, gelang dengan bentuk yang sama seharga seribu rupiah, di Malioboro dijual dengan harga Rp. 2.500 per buah.

Jadi jika ingin berbelanja murah di Yogyakarta, datanglah ke Prambanan.