Wednesday, June 24, 2020

Persiapan Penting Sebelum Nonton Konser

Konser Virgoun saat Festival Lampion Pekanbaru


Sebelum aku bahas tentang persiapan penting sebelum nonton konser, Sebenarnya apa sih yang kita cari saat nonton konser? Mungkin banyak yang mikir, jika lebih baik nonton di rumah atau melalui Youtube dan bisa melihat idola kita lebih jelas. Eits, jangan salah. Nonton konser punya feel berbeda lo. 

Tujuannya, tentu pasti pengen senang-senang, bisa bernyanyi bersama dengan artisnya, syukur-syukur bisa jabat tangan atau foto bareng. Itu kan nggak bisa dilakukan secara daring. Hahaha.Tulisan persiapan pentung sebelum nonton konser ini murni pengalaman pribadi aku selama nonton konser artis nasional. Jangan tanya artis internasional apalagi artis K-Pop, soalnya aku belum pernah nonton yang begituan. Tapi setidaknya, ini bisa menjadi referensi bagi Kamu yang akan menonton konser idola Kamu.

Foto bareng Virgoun


Dan yang terpenting adalah....

Hafal Lagu

Aku letakkan, poin ini di urutan teratas. Karena inti dari senang-senang saat nonton konser adalah nyanyi bareng sama penonton lain dan sama artisnya. Kalau Kamu nggak hafal, otomatis akan plonga-plongo, ending-nya ya nggak betah alias pengen pulang. Ya minimal Kamu tahu lagu artisnya yang nge-hit, atau ref-nya sedikit-sedikit.

Aku pernah nonton konser Fiersa Besari, Slank, Budi Doremi, Virgoun, dan Didi Kempot. Karena sebagian besar adalah tugas liputan tentu tidak semua penyanyi aku tahu lagu-lagunya. Konser Fiersa Besari, dulu aku nggak tahu lagu dia sama sekali, alhasil ya aku plonga-plongo. Semua orang semangat nyanyi bareng, hanya aku sendiri yang terdiam, merana, merenung, dan mencoba menerima. Meskipun dalam hati rasanya pengen pulang.

Konser Slank apalagi, aku bukan Slankers, nggak paham lagu-lagunya, itu datang cuma nemenin teman. Akhirnya setengah jam langsung pulang. Dari situ akhirnya aku belajar, setidaknya harus tahu sedikit lagu-lagu dari artis yang akan konser. Alhamdulillah, konser Budi Doremi dan Virgoun lumayan banyak lagu yang hafal, jadi bisa have fun, dan betah mantengin panggung.

Lalu, konsernya Didi Kempot. Itu konser terakhir dia hadir di hadapan Sobat Ambyar sebelum beliau meninggal. Aku hanya tahu lagu Didi Kempot itu yang zaman dahulu, seperti Cucak Rowo, Stasiun Balapan, dan lain-lain. Tapi karena dia udah banyak ciptakan lagu baru, dan belajar dari pengalaman nonton konser sebelumnya, akhirnya aku putuskan buat menghafalkan lagu-lagu Didi Kempot, setidaknya yang paling terkenal, dan pasti dinyanyikan saat konser. Persiapan buat menghafalkan lagu Didi Kempot pun berhari-hari, setiap hari putar semua lagu Didi Kempot yang terkenal. Alhasil, aku bisa menikmati konser dengan sempurna, tidak ada lagi kisah sedih seperti saat nonton konser Fiersa Besari dan Slank.

Selanjutnya persiapan khusus

Sehat

Ya ini jelas lah, jangan sampai Kamu ambruk saat semuanya lagi asik joget. Bisa geger nanti satu gedung.

Bawa Tas Aman

Usahakan jangan bawa tas punggung. Meskipun nyaman dipakai, tapi tas punggung tidak aman. Karena Kamu tidak bisa selalu mengawasi punggungmu. Ingat, kejahatan ada karena kesempatan. Kalau pun nanti tetap bawa tas punggung, letak tasnya di depan, jadinya tas perut.

Sangat disarankan memakai tas samping, waist bag, dan sejenisnya. Atau tas-tas yang bisa diawasi setiap saat.

Yah, itu kira-kira, beberapa hal penting yang harus dipersiapkan sebelum nonton konser. Kalau kurang lengkap, silahkan cek laman sebelah. Jangan lupa nikmati sebisa mungkin setiap konser yang didatangi. Jika tidak nyaman, pulang saja.

Suatu saat nanti, aku juga pengen bisa nonton konser-konser tidak di Pekanbaru saja. Semoga nanti aku bisa nonton grup band favoritku, Day6.

Wednesday, October 16, 2019

Arah Langkah: Petualangan Tiga Pengelana Sambangi Keindahan Nusantara



Cover Arah Langkah - Fiersa Besari

Aku sudah menyimpan buku Bung Fiersa ini lebih dari dua bulan. Tak tersentuh karena tak kusempatkan waktu untuk membaca. Jarang membaca membuatku kehilangan ruh dalam tulisanku. Ketika menonton video di Channel Youtube Anji, aku terenyuh dan memantapkan hati membaca Arah Langkah hingga halaman terakhir.

“Tahukah kamu kenapa aku menyukai Fiersa Besari? Pertama, karena dia adalah pendaki. Kedua dia adalah anak band dan dia seorang penulis,” kira-kira begitu kata Anji. Entah mengapa aku tergerak untuk membuka buku pinjaman yang tak kunjung ku kembalikan kepada pemiliknya.

Siapa yang tak kenal Fiersa? Barangkali, kata-katanya sering dikutip dalam setiap unggahan di media sosial. Dalam bukunya, juga bertabur kata-kata berlian khas Fiersa. Siapa tak terenyuh kawan, siapa tak jatuh cinta kalau kalimatnya acapkali membuat baper. Sangat cocok jika digunakan untuk memberikan kode ke gebetan. Andai saja dia peka.

Buku ini adalah sebuah jurnal perjalanan dari tiga petualang. Perjalanan dari Bandung menelusuri tanah Sumatera hingga timur Indonesia. Tiga tokoh tersebut adalah Bung, Baduy dan favoritku yang tercantik di antara tiga petualang, Anisa Andini alias Prem.

Baduy, Prem, dan Bung dalam dokumentasi Arah Langkah- Fiersa Besari


Bung dan kedua rekannya melakukanperjalanan dengan backpacker-an. Menyelami dalamnya air dan mendaki tingginya gunung-gunung di Indonesia. Tak hanya itu, warna dan budaya dituturkan secara gamblang dengan dekripsi yang membuat imajinasiku menyala-nyala.

Jernihnya air laut, ramahnya penduduk, dinginnya angin gunung membuatku seolah-olah turut menyertai perjalanan Bung yang dilakukan pada tahun 2013 ini.

Selain kata mutiara, banyak hal yang bisa dipelajari dari tulisan Bung. Bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat setempat, bagaimana bergaul dan bagaimana mempelajari dan menghormati budaya-budaya di berbagai daerah di Nusantara.

Jurnal Bung juga dilengkapi dengan foto-foto perjalanan membuat hati ingin menyambar ransel dan mulai berpetualang. Melalui buku ini, aku mempelajari selemah apa pun kita tidak ada alasan untuk tidak bisa.

Dokumentasi foto dalam buku Arah Langkah - Fiersa Besari

Bung bercerita, dia memiliki penyakit maag kronis yang bisa kambuh sewaktu-waktu, badan yang ringkih untuk menaklukkan gunung, hingga kaki kiri yang kerap bermasalah. Sedikit banyak tulisan Bung terutama tentang kaki kirinya yang berhasil membuatku berpikir ulang jika ingin pensiun menikmati alam.

Tadi aku mengatakan sangat menyukai Prem. Di foto yang dibagikan dalam Arah Langkah, prem adalah perempuan tangguh yang mampu melampau pandangan masyarakat jika wanita itu lemah. Prem membuktikan dia juga bisa, bahkan ia lebih hebat dibandingkan Bung. Ia juga dipanggil Abang Anisa saking perkasanya dia sebagai wanita.


Bung berulang kali menorehkan dalam bukunya jika ia akan menggunduli rambutnya yang gondrong kala itu jika ia sampai di Raja Ampat. Aku menunggu-nunggu adegan tersebut, tapi di akhir cerita Bung tidak menuliskan jika ia telah sampai di sana. Ia juga tidak pulang. Mungkin buku ini ada sesi selanjutnya. Aku baru satu ini baca buku Fiersa.

Bung begitu menyelami kebudayaan setiap masyarakat. Meskipun kadang aku berpikir jika tak perlu sampai seperti itu untuk mengenal lebih dalam. Jujur aku tidak suka bagian ketika Bung berpesta ganja ketika ditawari salah satu orang ketika di Aceh. Bung juga kerap menikmati tuak yang dituangkan ke gelasnya. Padahal ia juga bisa dengan mudah menolaknya. Seperti Prem dan Baduy. Bahkan, Bung juga sempat mencicipi daging ular yang katanya lezat. Ku pikir Bung terlalu sembrono karena tidak memastikan daging apa yang ia cicipi ketika di negeri orang.

Mungkin saja, Bung terlalu patah hati karena dikhianati oleh orang yang dicintai serta sahabat yang ia percayai. Barangkali, perjalanan Bung adalah pelampiasan untuk melepaskan sakit yang tak tertanggungkan oleh perempuan bernama Mia.

Baca Juga: Pasung Jiwa

Dalam buku ini, juga menuturkan pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa baik oleh Bung, Prem dan Baduy. Selain itu juga banyak ilmu-ilmu perjalanan yang bisa diserap untuk dijadikan bekal ketika berpetualang suatu saat nanti. Hanya saja, perpisahan memang menyakitkan, andai aku jadi Bung aku akan menangis di sudut tenda dalam kelam malam, biar air mata mengalir tanpa suara.

Sejauh apa pun jalan yang kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah.- Fiersa Besari
Ada beberapa kalimat yang sangat aku sukai dalam buku ini, mungkin bisa kujadikan status atau story di media sosialku nanti. Tentu saja aku ingin berbagi, karena berbagi tak pernah rugi. Berikut kata-kata mutiara Fiersa Besari dalam buku Arah Langkah.

Kita tidak akan pernah tahu ke mana hidup membawa kita. Hidup ini seperti petualangan panjang, dengan hiasan suka dan duka, bahan cerita untuk anak cucu kita kelak. – Baduy.

Aku belajar bahwa hidup ini menyenangkan  kalau kita melihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap. – Bung.

Menjadi pengelana tidak selalu menyenangkan. Aku- dengan lugunya berpikir, betapa menyenangkannya bertemu dengan banyak orang baru, hingga tidak sadar bahwa perpisahan adalah risiko yang menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi, ketika kita harus berpisah berulang kali dengan banyak tempat dan banyak sahabat. – Bung.

Semua daerah memiliki cerita yang berbeda-beda. Yang sama hanyalah rasa sakit ketika berpisah. Karena perpisahan, semanis apa pun, seindah apa pun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan. – Bung.

Tidak perlu banyak memotret sampai lupa menikmati karunia Tuhan. Tidak perlu sibuk mencari sinyal untuk pamer foto di situs media sosial. Secukupnya saja, lalu diam dan nikmati wajah alam semesta. – Bung.

Ketika tinta pengkhianatan tumpa di atas aksara kisah, tulisan tentang kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Takkan pernah lagi bisa. – Bung.

Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai. Duduk bersama di pelataran senja untuk menyambut teater gemintang, mana mungkin kenangan ini lenyap dari ingatanku? – Bung.

Indonesia adalah sepercik surga yang Tuhan turunkan di muka bumi. Akan sangat merugi diriku jika hanya bisa melihat pantai, gunung, keanekaragaman budaya, dan nilai historisnya, hanya dari layar kaca. – Bung.

Dalam Arah Langkah, perjalanan Bung, Prem dan Baduy berawal dari Bandung, kemudian menjelajah Sumatera hingga akhirnya menjajaki Manado. Masih misteri bagiku yang baru hanya membaca satu bukunya apakah Bung akan menggunduli kepalanya.

Sunday, February 10, 2019

Semarang to Magelang: Wisata Candi Borobudur


Dari Semarang menuju Yogyakarta. Untuk menyapa  Candi Borobudur dan bertemu dengan Roro Jonggrang dalam kutukannya di Candi Prambanan.

Aku, Nurul asal Medan dan Nia dari Pekanbaru, telah merencanakan jauh-jauh hari kunjungan ke Kota Gudeg ini. Awalnya kami berencana akan menggunakan kereta api murah dari Semarang menuju Solo. Sekitar Rp. 10 ribu, kemudian dari Solo ke Yogyakarta juga dengan kereta api sekitar delapan ribu rupiah. Travelling ala backpacker.

Baca juga: Melihat Kerukunan Umat Beragama dari Kacamata Gereja Katolik Karangpanas

Tapi wacana yang hampir matang sengaja dirubah, mengingat dan menimbang ketika Roni dan Jelita asal Aceh hendak bergabung. Mereka menyarankan untuk menyewa mobil lengkap dengn supirnya kira-kira habis biaya Rp. 600 ribu sudah termasuk bensin.

Jika dikaji lagi, lima orang yang akan pergi dengan biaya 600 ribu. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kami bisa pergi kemana-mana tanpa perlu memikirkan ongkos transportasi lagi. 600/5 = 125. Satu orang bertanggungjawab sebanyak Rp. 125 ribu. Belum termasuk makan pribadi dan sopir.

Kami menyewa mobil ojek online atau Grab. Dengan destinasi tujuan, Borobudur, Prambanan dan Pantai Parang Tritis. Lumayan murah jika dibagi kami berlima.

Awalnya kami akan berangkat dari Semarang pukul tiga subuh. Karena supir sedikit keberatan maka kami memutuskan untuk berangkat pukul lima pagi. Aku bersyukur supir keberatan berangkat jam tiga, karena kami bari terbangun pukul lima. Seperti kebanyakan jam karet dari pukul tiga molor hingga pukul 5. Dari pukul lima ngaret hingga pukul enam pagi.

Baca juga: Potret Nyata Kerukunan Muslim dan Tionghoa Semarang

Dua jam perjalanan dari Sematang ke Yogyakarta melewati jalan bebas hambatan. Dengan pemandangan gunung serta bukit-bukit dan bentang alam yang memanjakan mata.

Masuk di daerah Magelang, supir menepikan mobil untuk mengisi perut yang keroncongan. Aku sudah mual dari tadi karena belum ada makanan yang mengisi perutku. Gudeg menjadi pilihan terbaik pagi itu.

Gudeg adalah makanan khas DIY. Nasi yang dicampur dengan sayur nangka. Nangka tersebut lebih mirip daging yang diiris-iris dilihat dari visualnya. Ditambah dengan suiran ayam dan topping kacang-kacangan. Rasanya manis. Kami orang Sumatera kurang cocok dengan makanan yang manis-manis. Hanya supir yang menghabiskannya makanannya.

Menuju Candi Borobudur, candi megah peninggalan wangsa Syailendra berbentuk stupa ini berada di daerah Magelang. Banyak orang berpikir bahwa Borobudur terletak di Yogyakarta padahal tidak. Candi Budha ini didirikan sekitar tahun 800 Masehi. Hingga kini Borobudur adalah candi terbesar di dunia.

Biaya masuk ke candi sekitar Rp. 40 ribu, jika ingin pergi ke Prambanan sekalian, lebih baik pesan di sini. Dapat diskon lima ribu rupiah. Jadi cuma bayar Rp. 75 ribu untuk bisa mengunjungi Borobudur dan Prambanan.

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan ribuan relief dan arca budha.


Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus pucak dari Borobudur. Di tiap undakan terdapat stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila. Ada beberapa arca buddha yang tidak tertutup stupa.


Berkunjung ke Borobudur sama halnya dengan menanjak di sebuah bukit. Tangga demi tangga harus dilewati. Terkadang harus berhenti sejenak untuk menarik napas dan minum air. Jangan sampai tidak membawa air ya. Makanan memang tidak diizinkan, tapi air wajib dibawa. Aku tidak membawa air sama sekali sehingga bisa dibayangkan betapa dehidrasinya aku menuju Puncak Borobudur.

Ada banyak penjual minuman, tapi hanya sampai pintu pengecekan tiket. Setelah itu tidak ada yang berjualan di dalamnya. Saranku jangan terlalu siang jika pergi ke candi ini. Cuaca sangat panas, meskipun ada yang menyewakan payung.

Lelahku hari itu semakin menjadi-jadi. Tanpa air mineral, tanpa makanan. Hanya membawa kamera. Betapa bodohnya aku kala itu. Aku menjanjikan akan menjelajah Borobudur hanya dua jam. Kedua temanku, Nurul dan Nia sudah pernah mengunjungi tempat ini. Jadi hanya aku, Roni dan Jelita yang masuk ke dalam.

Sampai di dalam kami terpisah. Tak pusingkan hal itu, aku menjelajahi berbagai sudut Borobudur. Sesekali meminta orang yang tidak kukenal untuk memotretku. Atau dengan menggunakan timer lalu ke sangkutkan gawai di relief agar tidak jatuh.

Puas berkeliling aku mencari-cari Roni. Beruntung ia tak sulit ditemukan. Ia sempat mengomel karena mencari-cari kami. Bukan, aku tak berniat memisahkan diri, tapi aku mencari beberapa spot foto yang bagus. Ketika kembali mereka sudah tidak ada.

Akhirnya aku dan Roni kembali berjalan berkeliling candi untuk menemukan Jelita. Aku menuju stupa tertinggi di puncak agar dapat melihat lebih luas. Kendati demikian aku tak menemukan warna baju jelita yang dipakai hari itu. Sempat mengelilingi Borobudur sekali lagi. Kami tak kunjung menemukannya.

Kami beristirahat di salah satu sudut Borobudur yang telindung dari terik matahari siang itu. Aku berpikir jika Jelita sudah turun duluan dan menyarankan ke Roni untuk segera turun karena cuaca semakin terik. "Janganlah, nanti kalau dia belum turun gimana? Dia itu orangnya panikan. Kalau hilang gimana?" kata Roni dengan wajah cemas.

Mungkin kau akan bertanya padaku kawan, kenapa tidak di telpon saja. Itu karena nomor telelon Jelita tidak aktif. Juga karena dia sedang tidak memiliki paket internet. Kalang kabut kami mencari sampai kami umumkan di pos pengumuman orang hilang. "Pengumuman, kepada pengunjung bernama Siti Jelita dari Aceh, ditunggu temannya di pintu keluar," kira-kira begitu bunyi pengumuman yang menggema di Borobudur.

Beruntung kami semua dipertemukan lagi beberapa saat kemudian setelah Roni dan supir melakukan pencarian di luar candi. "Aku gak ngilang kok, aku cuma jalan-jalan aja," kata Jelita. Syukurlah tidak ada hal buruk yang terjadi. Tak bisa kubayangkan harus kehilangan rekan di negeri orang. Tengah hari itu juga kami bertolak ke Prambanan.

Dari kiri ke kanan: Roni, Aku, Jelita


Thursday, February 7, 2019

Potret Nyata Kerukunan Umat Beragama, Muslim dan Tionghoa Semarang


Warna-warna merah dan gambar Babi berwarna pink menghiasi sepanjang Jalan Gang Warung Semarang Lampion-lampion digantung sedemikian rupa. sehingga menambah kental suasana menyambut tahun baru Imlek yang bershio Babi ini.

Rombongan peserta Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) mengunjungi Pasar Imlek Semawis, guna meliput keberagaman di Semarang. Sebelumnya mereka mengunjungu Gereja Katolik Karangpanas.

Baca juga: Melihat Keberagaman dari Sudut Pansang Gereja Katolik Karangpanas

Aku menyempatkan diri untuk singgah di salah satu kelenteng di pasar tersebut. Tepatnya kelenteng Ling Hok Bio. Dua orang pria berwajah cina terlihat tengah bercengkerama dalam bahasa jawa di teras kelenteng.

The Hok Gio namanya. Pria paruh baya ini juga memiliki nama lokal Bedjo Santosa. Ia adalah pengurus kelenteng dan menjabat sebagai sekretaris di Kelenteng Ling Hok Bio.

Bedjo bercerita, Kelenteng yang memiliki tuan rumah Hok Tek Cing Sen (Dewa Bumi)  ini telah berdiri lebih dari satu setengah abad, tepatnya pada tahun 1886. Selama itu pula tidak pernah terjadi perselisihan antar umat beragama di sekitar kelenteng tersebut. "Perselisihan gak pernah ada, banyak orang sini cina dan muslim," ujarnya.

Menurut Bedjo kehidupan antar umat beragama sangat rukun. Bahkan ketika hari-hari besar baik hari besar Tionghoa atau pun hari besar Islam. Semua turut membantu. "Kalau mau Imlek biasanya orang Islam bantu-bantu bersihkan kelenteng, juga meramaikan Pasar Semawis, " katanya.

Ketika bulan puasa atau bulan ramadhan. Umat Tionghoa juga menyediakan takjil yang diberikan secara gratis. Bedjo mengungkapkan jika takjil dibuka dari jam tiga hingga lima sore.  Selain itu setiap hari Jum'at ada Kantin Kebajikan. Kantin ini didirikan oleh Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin). "Buka dari jam 11, siapa saja boleh makan," kata Bedjo.

Saat Idul Fitri Umat Tionghoa juga bersilaturrahmi ke rumah-rumah Umat Muslim. "Kalau ketemu kami mohon maaf lahir dan batin," tutur Bedjo.

Pasar Imlek Semawis menjadi potret nyata kerukunan umat beragama di Semarang. Tak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Tionghoa, tapi juga diramaikan oleh masyarakat luar. Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam hidangan yang bisa  dipilih. Mulai dari pisang plenet khas Semarang, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga pakaian, juga pernak-pernik khas Cina.

Pedagang di Pasar Semawis ini tak hanya warga Tionghoa. Banyak perempuan berhijab turut menjajakan dagangannya. Pengunjung juga banyak didominasi masyarakat luar. Selain berbelanja bermacam-macam kuliner, pengunjung juga bersorak dan datang ramai-ramai melihat pertunjukan Wayang Cina.

Tuesday, February 5, 2019

Melihat Kerukunan Beragama dari Kacamata Gereja Katolik Karangpanas


Patung Athanasius Agung, kira-kira setinggi tiga meter menyambut kedatangan kami. Tiga buah angkot berwarna kuning dan oren memasuki area parkiran. Kami diturunkan tepat di depan pintu gereja.

Hari minggu, 3 Februari 2019. Tidak ada orang lain yang berdiri di sana selain kami, peserta Workshop Serikat Jurnalis untuk Keberagaman. Kami ditugaskan untuk meliput keberagaman melalui kacamata umat Katolik Gereja Karangpanas.

Beberapa saat kemudian kami dialihkan menuju Retret Panti Samadi Nasare. Berjalan kaki kami ke sana. Kontur Semarang yang berbukit dan menanjak cukup membuat peluh peserta bercucuran. Untung saja angkot oren dan kuning menyusul tak lama kemudian.

Di perjalanan menuju Retret, banyak pohon-pohon rindang menghalau panasnya sinar matahari. Pohon-pohon bambu di kiri dan kanan jalan juga menambah keasrian.

Dua patung tokoh pewayangan, Semar menyambut kami sebelum memasuki Retret. Tak hanya di luar, di dalam Retret sangat banyak tumbuhan-tumbuhan menjalar yang menghiasi koridor-koridor yang menghubungkan setiap bangunan. Tanaman-tanaman ditata sedemikian rupa menambah kesan hijau di Retret ini.

Seorang pria paruh baya berambut panjang sedada. Ia terlihat seperti Yesus hanya saja jika memiliki kumis dan jenggot. Ia juga mengenakan baju abu-abu batik dan sarung batik hitam bertuliskan huruf-huruf Jawa yang tak kupahami. Dia adalah seorang Romo, panggilan yang diberikan oleh umat Katolik di kepada para imam Katolik (pastor). Romo Budi Purnomo.

Kami diarahkan menuju ruang makan. Riuh suara dari dalam ruangan ketika kaki-kaki 26 mahasiswa ini memasuki ruangan. Jemaat gereja yang didominasi pria paruh baya ini sangat antusias melihat kedatangan kami yang mayoritas adalah muslim.

Belum sempat Romo Budi memperkenalkan kami,  mereka mengajak swafoto beberapa peserta yang berhijab. Setelah Romo menenangkan jemaat, ia memberikan sambutan kemudian menerangkan secara ringkas tentang Gereja Katolik.

Romo membawa kami menuju ruangan lain, ia duduk di sebuah kursi kayu. Mendengar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa pers kampus ini. Dengan suara yang lembut dan tegas, Romo menjawab pertanyaan mereka dengan cara bijaksana. Khas seorang Romo.


Romo memainkan saxsofon berwarna emas miliknya. Mengalun tembang lagu Tombo Ati untuk beberapa saat. Aku kagum dengan Romo, seorang katolik yang menghormati agama lain. Tombo Ati adalah lagu berisi pujian dari agama Islam.

Tak cukup sampai di situ, Romo melantunkan takbir persis seperti saat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Aku sedikit sangsi jika dia beragama katolik.

Romo menceritakan kerukunan umat beragama di Semarang sangat baik. Hubungan-hubungan dengan pemuka-pemuka agama selalu dijaga. "Kami sering mengadakan kegiatan bersama, mengundang dan diundang," tuturnya.

Romo mengatakan jika generasi saat ini kurang memiliki toleransi dengan agama-agama lain. Ia berkisah saat dia masih remaja. Kerukunan beragama terjalin dengan baik. Bahkan Romo mengaku sempat ingin masuk Islam kala itu. "Dulu waktu saya masih muda, ketika sahur saya ikut membangunkan warga. Saya juga disuruh takbiran, sempat bilang ke orang tua kalau saya pengen masuk Islam karena di gereja tidak pernah disuruh solois, eh di lingkungan Islam saya disuruh takbiran," ucap Romo Budi sambil tertawa.

Menurut Romo Budi, agama adalah kepercayaan masing-masing. Ia tidak menyalahkan seseorang menganut agama apa. Semua adalah pilihan baik Islam maupun Kristen. Ia juga tidak menyalahkan jika seseorang berpindah agama. "Ya tidak ada salahnya, saya akan mendoakan yang terbaik untuk mereka," tuturnya.

Saat adzan dzuhur berkumandang Romo diam beberapa saat untuk menghormati adzan. Kemudian melanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Beberapa saat setelah adzan dzuhur, Romo harus memimpin misa di kapel. Ia pamit dan mengajak kami untuk datang ke kapel dan menyaksikan bagaimana ibadah misa umat Katolik.

Aku sedikit ragu untuk datang ke kapel. Adzan dzuhur baru berkumandang, tapi aku melangkahkan kaki ke kapel untuk melihat misa, sedangkan aku adalah muslim. Tapi aku tetap melangkahkan kaki ke kapel karena penasaran. Ini kali pertamaku ke tempat ibadah umat Katolik.

Romo berdiri di atas altar memakai gamis putih dengan sorban hijau yang di lehernya. Mungkin berlebihan jika aku menggunakan kata sorban. Ibadah berlangsung khidmat dan diakhiri dengan memberikan hosti kepada jemaat.

Hosti adakah roti sebagai simbol darah Yesus. Hanya jemaat yang boleh memakannya. Kami umat Islam tentu tidak bisa.

Usai misa, jemaat bersalaman dengan kami dan mengucapkan terimaksih. Kemudian kami diajak makan bersama oleh Romo dan para jemaat. Tapi kami membawa makanan kotak sendiri yang disediakan oleh hotel tempat kami menginap dan mengadakan acara. Mereka bersikeras untuk mengajak kami makan bersama meskipun ruang makan sudah penuh.

Aku mengambil beberapa makanan yang disediakan, segelas es, gorengan dan kerupuk. Setelah itu bersiap-siap untuk salat di masjid sebelum menuju kelenteng.



Tuesday, January 29, 2019

Resensi Bilangan Fu: Spiritiualisme Kritis, Agama dan Tradisi

Resensi Bilangan Fu: Spiritiualisme Kritis, Agama dan Tradisi


Judul        : Bilangan Fu
Penulis     : Ayu Utami
Halaman  : 573 hlm
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta
Cetakan   : Juni 2018

“Yuda, si Iblis, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Parang Jati, si Malaikat, pemuda berjari 12 yang dibesarkan ayah angkatnya untuk menanggung duka dunia.”

Novel Bilangan Fu, mengisahkan tentang spiritualisme kritis. Berangkat dari seorang tokoh bernama Yuda, seorang pemanjat tebing yang juga seorang mahasiswa. Yuda diceritakan sebagai sosok yang menjunjung tinggi jiwa satria. Juga, ia sangat gemar bertaruh.

Dalam memanjat tebing, Yuda dan rekan-rekannya adalah pemanjat tebing artifisial atau dirty climbing. Yang memanjat menggunakan pasak, palu dan bor dalam prosesnya. Kemudian semua berubah setelah Yuda bertemu dengan mahasiswa geologi bernama Parang Jati. Dalam suatu taruhan, Yuda mengalami kekalahan sehingga mengharuskannya untuk berpindah ‘agama’ dari dirty climbing menjadi clean climbing (metode panjat tebing yang tak merusak).

Yuda sangat rasional, modern serta tidak mempercayai takhayul. Berbeda dengan Parang Jati yang menghargai alam dan percaya bahwa setiap tempat pasti ada penunggunya.

Setting tebing dalam novel ini berada di perbukitan gamping, Tebing Watugunung. Di mana penduduk sekitar Watugunung sangat mempercayai hal-hal yang tidak bisa dipikirkan secara rasional. Jati yang tumbuh besar di daerah tersebut tentu saja memiliki pemikiran dan kebajikan yang berbeda dibandingkan dengan Yuda.

Sebelum bertemu Jati, Yuda mengalami kejadian ganjil ketika bermalam di Watugunung. Dalam mimpinya ia didatangi oleh penunggu tebing. Yuda memberi nama Sebul, makhluk berkaki serigala, berbadan wanita tapi berkelamin jantan. Makhluk itu membisikkan Bilangan Fu kepada Yuda. Tak hanya sekali makhluk itu datang, tapi berkali-kali. Hal ini menimbulkan  pertanyaan besar bagi Yuda tentang Bilangan Fu.

Ayu Utami, penulis novel ini mengisahkan jika Jati selain mengedepankan nilai-nilai spiritualisme kritis, ia juga memperjuangkan kelestarian lingkungan. Ia menentang keras upaya penambangan batu secara besar-besaran yang dilakukan perusahaan yang mengancam lingkungannya.

Nilai-nilai agama sangat sarat dalam novel ini, di mana monoteisme dianggap bertentangan dengan tradisi-tradisi masyarakat Watugunung.  Sesajen atau persembahan dianggap sesuatu yang syirik menyekutukan Tuhan, pelakunya dianggap orang kafir dan tidak lagi beriman kepada Yang Maha Esa. Selain itu novel ini juga mengkritik militerisme dan modernisme.

Tapi Jati berpikir dari sudut pandang yang berbeda, jika manusia yang berpikir modern membayar bea cukai kepada penguasa. Maka menurut Jati tidak ada salahnya juga jika masyarakat membayar Bea Cukai dalam bahasa tradisi disebut sesajen kepada alam.

Jati menganggap kepercayaan tersebut adalah wujud manusia dalam menghargai alam, tidak merusak dan menjaga kelestariannya. Dengan adanya kepercayaan  seperti penunggu atau bahkan Nyai Rara Kidul akan membuat manusia tidak semena-mena terhadap alam.

Lalu apa sebenarnya Bilangan Fu yang membuat hati Yuda bergejolak? Spiritualisme kritis apa yang dimaksud oleh Jati? Benarkah memberikan sesajen adalah perbuatan syirik? Lalu apakah makhluk-makhluk penguasa tak kasat mata itu benar adanya?

Dalam menceritakan spiritualisme kritis, Ayu banyak memberikan ulasan-ulasan yang menyinggung sejarah raja-raja tanah Jawa. Pembaca bisa menilik kembali kisah-kisah dalam Babat Tanah Jawi melalui Novel Bilangan Fu. Ayu mengangkat wacana spiritual keagamaan, kebatinan, maupun mistik ke dalam tulisannya yang menghormati sekaligus bersikap  kritis. Ayu mengangkat wacana keberimanan tanpa terjebak dalam dakwah hitam dan putih.

Tulisan-tulisan Ayu sarat akan deskripsi.  Baik itu tentang panjat tebing, bentang alam, legenda zaman dahulu, bahkan sejarah Indonesia di masa Soeharto dan beberapa presiden setelahnya. Dari deskripsi tersebut Ayu menyuguhkan banyak kosa kata baru dan mengingatkan kembali kepada pembaca akan sejarah dan legenda yang ada di Nusantara.

Hanya saja, dalam penulisannya Ayu menjelaskan suatu deskripsi secara penuh, sehingga tokoh utama kehilangan eksistensinya dalam novel ini. Jika tidak berhati-hati, pembaca akan mudah melupakan keberadaan tokoh-tokoh utama ketika Ayu mulai mengisahkan Babad Tanah Jawi, legenda, dan kisah sejarah lainnya.

Ayu memberikan banyak kosa kata baru kepada pembaca, tetapi banyak kata yang tidak familiar sehingga sulit untuk memahami maksud dari sebuah kalimat. Seperti kesunyatan, ruwat, pauh dilayang, selibat, padma, sadukaling dan banyak lainnya.

Novel ini adalah manifesto Ayu Utama tentang sebuah sikap yang dianggap perlu diutamakan di zaman ini: sikap religius ataupun spiritual, yang kritis.